Selamat Siang Kapten

Oleh : Dimas Widjanarko

 
 
      Selamat siang kapten, Jakarta sedang dilanda hujan dan banjir 5 tahunan yang berdampak cukup besar ya sekarang, bahkan banyak yang berwacana pemindahan Ibukota Negara tidak lagi di Jakarta dan banyak media berasumsi kalau Jakarta lumpuh total. Sayangnya kami sudah “lumpuh” semenjak dua sampai tiga bulan belakangan ini, bukan lumpuh secara arti harfiah sebenarnya kami hanya lumpuh mengenal arti kata cinta dan loyalitas.

      Tadi malam 18/1 kami mendengar kabar engkau pergi ke luar kota, untuk urusan dinas kah kapten? Layaknya seorang pemimpin keluarga yang mencari nafkah untuk anak dan istrinya? Atauu oohh ya saya paham pasti engkau pergi sebentar ke salatiga karena ada keluarga yang hajatan bukan? Saya harap begitu, dan artinya pasti engkau akan pulang ke rumah dan membawa kabar yang lebih baik untuk kami nanti.

   Jangan bereskan barang-barangmu yang menumpuk di mess ya kapten, itu bukankah rumahmu juga? Pemain idolamu Kurniawan Dwi Yulianto bukankah pemain jebolan Diklat ragunan dan klub kebanggaanmu juga bermarkas disana juga bukan?

    Resto Mbah Jingkrak di GOR Bulungan, Soto Ceker Blok M, Sate Ayam Petrok, Ayam Bakar Babe Lili, Soto Betawi Bang Idris dan Nasi Uduk Kebon Kacang. Kalau bisa beri kami jadwal hari apa saja engkau berkunjung kesana ya kapten. Kami tidak minta untuk ditraktir ko’, kami hanya ingin sekedar bertegur sapa saja secara langsung, karena tegur sapa kami waktu engkau latihan dan bertanding biasanya selalu engkau anggap dingin, karena kami tau engkau sedang berkonsentrasi penuh bukan? Hehehe..

    Ohh iya kapten, waktu engkau pulang nanti ajari kami cara membedakan meloncat dan melompat ya. Setahu kami engkau tidak pernah meloncat dari masalah tetapi engkau selalu melompat untuk mengambil ide permasalahan tersebut dan itulah itikad dari seorang pemimpin.

    Kapten,kita mungkin tidak lagi selalu berhadapan dan bertatap penuh harapan seperti layaknya katedral dan istiqlal, tapi memang cinta dan loyalitas bukan hanya sekedar verba dan wacana. Karena kami tahu bahaya jika cinta loyalitas hanya sekedar verba dan wacana, siapa yang meninggalkan dan siapa yang ditinggalkan akan jadi masalah utama. Tetapi balada ini tidak bercerita tentang siapa yang meninggalkan dan siapa yang ditinggalkan,karena kami yakin engkau akan kembali pulang kapten.

Tiga Pilar Penyangga Ibukota

Oleh : Dyanitho Kenconoputro

 

   Persija – Jakarta – Jakmania. Tiga kata yang saling mengisi di otak saya. Terlepas dari gedung-gedung tinggi, jalan yang padat dengan kendaraan, dan problem kota-kota besar lainnya, namun kota ini membuat saya jatuh hati dengan itu semua. Sayangnya, budaya yang identik dan menjadi ciri khas kota ini kini terpinggirkan karena orang-orang yang menjaga budaya-budaya itu sendiri kini tergusur akibat ketamakan bos-bos berdasi yang hanya mementingkan apartemen dan mall-mall milik mereka saja.

    Padahal justru budaya-budaya asli betawi-lah yang membesarkan kota ini. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita lestarikan budaya-budaya asli Jakarta. Begitu juga Persija, tim ibukota yang sudah berdiri 83 tahun itu kini mulai diusik ketenangannya oleh pihak-pihak perusak. Padahal, kita, bahkan orang-orang lain pun tahu Persija itu identik dengan Bambang Pamungkas yang juga notabene ikon sepakbola nasional. 

    Namun mereka menipu kita, seakan-akan kita bodoh dan mudah diperdaya olehnya dengan ‘menggandakan’ nama Persija, seharusnya ini merupakan batu loncatan bagi kita, untuk lebih menjaga keutuhan tim Persija. Tim yang sudah 10 kali juara dan patut mengenakan satu bintang di atas logonya. Lebih hebatnya pula Persija telah lahir sebelum Negara ini merdeka, dan sangat jaya raya di era 70-an.

   Beberapa wilayah di Jakarta pun menjadi saksi bisu berdirinya cikal bakal Persija yang dulu dikenal dengan nama VIJ atau Voetbalbond Indonesische Jacatra di daerah Petak Sin Kien, Mangga Besar tepatnya di Stadion UMS. Stadion itu pun kini masih digunakan tim-tim internal Persija untuk latihan. Kemudian lapangan Petojo yang sekarang mungkin sudah dijadikan perumahan, dan lapangan-lapangan lainnya.

   Banyak orang yang berjasa dalam kemajuan sepakbola Jakarta pada kala itu. Seperti orang-orang peranakan  Cina di Jakarta yang menyukai sepakbola dan tak lupa MH. Thamrin yang mendirikan Stadion UMS dengan membeli sebidang tanah dari Belanda hanya untuk dijadikan kawasan bermain bola untuk kaum pribumi. Sungguh sangat patut diapresiasi  jasa-jasa mereka. Untuk itu kita sebagai penerus-penerus mereka wajib memelihara keberadaan sejarah tersebut. Karena Persija adalah identitas kota Jakarta yang mesti kita bela dan pertahankan.

    Bila berbicara Persija, tak lengkap sepertinya bila tidak membicarakan The Jakmania juga. Kelompok suporter Persija ini berdiri sejak 14 Desember 1997 silam. Bermula dari 40 orang yang peduli akan sepakbola Jakarta, dan hingga kini mereka-mereka mengenakan gelar JM (1-40) di depan nama mereka. Mungkin aku orang yang masih baru di dunia Persija, tapi berkat cerita kawan-kawan senior, saya sedikit tahu sejarah The Jakmania walau hanya lewat lisan atau tulisan saja.

    Dahulu bila Persija berlaga di Stadion Lebakbulus, tribun yang terisi hanyalah Tribun timur saja. Karena saat itu anggota The Jakmania hanya beberapa ratus orang saja. Namun setiap tahun anggotanya semakin bertambah. Bahkan mulai tahun 2007 bila Persija bermain home di Lebakbulus, stadion tidak kuat menampung puluhan ribu The Jak, yang akhirnya sekian ribu orang tertahan di luar stadion.

    Ini membuktikan, orang-orang yang suka Persija kini semakin bertambah setiap tahunnya. Mungkin juga karena Persija pernah menjadi Juara Ligina di tahun 2001. Beberapa kawan saya, pernah mengalami saat-saat itu. Ketika Persija menjadi Juara, dan The Jakmania sangat kegirangan menyambut kemenangan tersebut. Jalan-jalan protokol di Jakarta pun sudah seperti lautan Orang Oren. Bahkan saking gembiranya sekelompok orang menceburkan tubuh mereka ke dalam kolam di Bundaran HI.

    Walau hanya lewat cerita, saya bisa membayangkan betapa gembiranya perasaan mereka. Namun hingga kini, bila Persija akan melakoni laga kandang,  di sudut-sudut ibukota pun akan terlihat, para The Jakmania yang akan berbondong-bondong berangkat ke stadion. Ini merupakan pemandangan yang sudah umum terlihat.

    Di samping itu The Jakmania bukan hanya orang-orang dari sekitaran Jakarta saja. Banyak anggota-anggota The Jakmania juga berasal dari wilayah “Jalur Gaza”, atau wilayah perbatasan antara wilayah Jakarta dan Jawa Barat, yang merupakan daerah basis supporter Persib. Sungguh sangat diacungi jempol kesetiaan sebagai The Jakmania sejati.

    Bagi mereka para “outsider” pertandingan kandang, sudah seperti pertandingan tandang. Mengapa? Karena perjuangan mereka untuk datang tidak semudah mereka yang di Jakarta. Di perjalanan ada saja rintangan untuk menghalangi mereka datang ke stadion, seperti kisah seorang kawan saya dari Jak Kabupaten Bogor yang harus rela bergesekan dengan suporter Persikabo yang bergabung dengan suporter Persib di sekitar Bogor sebelum menyaksikan laga kandang Persija.

     Belum lagi supoter Persija yang juga kawan saya, dari daerah Cilegon yang dilempari batu bila melewati stasiun tertentu, dan masih banyak lagi para outsider yang loyalitasnya sebagai The Jak sudah sangat teruji.

    Hal yang sama juga terlihat bila Persija melakoni laga kandang di luar Jakarta. Seperti ketika laga melawan PSPS kemarin. Empat puluh delapan jam rela ditempuh para Jakmania melewati jalur Barat Pulau Sumatera, yang di sisi kiri dan kanan jalan hanya terdapat perkebunan kelapa sawit yang sangat membosankan. Namun mereka rela mencicipi itu semua. Bahkan suporter tim tuan rumah sangat salut dengan The Jakmania.

Sampai saat ini belum ada supoter tim tamu yang datang ke Kuansing. Bahkan bukan hanya suporter tapi warga sekitar stadion pun juga menyambut dengan antusias kedatangan suporter asal ibukota itu. Hal yang serupa yang juga ditemui bila Persija tandang ke daerah, selain di  Pekanbaru. Ini membuat saya lebih bangga menjadi suporter Persija.Forza Persija.. Macan Kemayoran!!

Kecintaan The Jakmania terhadap Persija, melahirkan “isme-isme” baru di jiwa tiap individu supporter Persija yang tergabung dalam suatu komunitas. Adanya sebuah komunitas, bukanlah pemecah atau penghalang bagi Jakmania. Bagi The Jak, komunitas-komunitas yang ada memberi warna tersendiri di dalam stadion. Seperti komunitas  Orange Street Boys dan Ultras Sector 5 yang mengadopsi budaya-budaya dari Italia, dengan ciri-ciri khas seperti giant flag, flare dan koreo-koreo di belakang gawangnya.

Kemudian komunitas Jakantor Community yang berisikan para pekerja  kantoran, Tiger bois dengan budaya casual-nya, Jakampus dengan kaum inteleknya, dan JakOnline,  yang merupakan komunitas yang paling intens menebarkan nama Persija di dunia maya yang juga media officer Persija, dan masih banyak komunitas lainnya yang memberi warna-warna tersendiri di dalam maupun luar stadion.

Namun seperti yang saya katakan di awal. Komunitas-komunitas ini hadir karena “isme” itu tadi. Apa pun kreasinya, yang lebih penting di sebuah komunitas Persija, yaitu menyanyi dan mendukung total 90 menit walau hujan dan panas silih berganti. Di sisi lain, supoter Persija pun seperti menjadi trend center bagi supporter lain, mulai dari lagu, gaya dan hal lainnya. Bukan sombong atau apa, namun bagi saya itu menjadi ‘nilai tambah’ tersendiri bagi Jakmania.

Jadi, jangan lah menanyakan apa saja yang sudah diberikan Persija dan Jakarta untuk anda, melainkan apa yang sudah anda berikan terhadap Persija, Jakarta, dan The Jakmania.

Kenapa Sepak Bola dan Kenapa Persija?

Oleh : Eka Zairina Aly Hanafiah

 

     Sepanjang saya terlibat dalam dunia supporter Persija, banyak sekali orang yang bertanya, mulai dari kenapa saya menyukai sepakbola, kenapa Persija? Tidak banyak yang bisa saya jawab, hanya kata-kata ini yang biasa saya berikan kepada mereka yang bertanya.

     Saya perempuan terlahir dari ibu berdarah melayu sumatera dan ayah berdarah sunda. Namun, kota saya lahir dan besar, bukan lah kota yang secara darah ada dalam diri saya. Saya lahir dan besar di Jakarta, tepatnya disebuah daerah  bernama Condet, di suatu keluarga yang sangat menyukai olahraga, terutama sepakbola. 

     Sejak kecil, ayah sering mengajak saya melihat pertandingan sepakbola, walaupun tidak paham dengan situasi dan kondisi serta aturan-aturan dalam permainan itu. Satu hal yang saya tahu ayah sangat menggemari olahraga 11 melawan 11 ini.

     Lama kelamaan, kebiasaan saya untuk melihat pertandingan sepakbola terus ada dalam diri saya, meskipun ayah sedang tidak di rumah, melihat pertandingan sepakbola sebelum pergi mengaji selayaknya anak-anak lain, saya lakukan. Apa yang saya lihat, klub berwarna oranye, yang bermain di Std. Lebak Bulus Jakarta.

     Belum terpikir oleh saya tentang kejayaan tim, kemenangan, rivalitas dengan klub lain, hanya persija dan persija. Saya melakukan seperti yang ayah saya lakukan.

     Namun, seiring bertambahnya umur, saya semakin sadar bahwa ini bukan hiburan semata. Ada alasan kenapa saya senang melihatnya. Bukan karena ayah saya, karena logikanya, jika karena ayah, pasti kebiasaan saya akan hilang saat ayah saya tiada beberapa tahun silam. Saya pun menemukan jawabannya, apa? Cinta! Cinta atas apa? Jakarta dan Indonesia. 

     Saya yakin dengan jawaban tersebut setelah saya terlibat perdebatan dengan teman-teman  mengenai kebiasaan saya menonton Persija. Menurut mereka, tidak wajar, karena melihat kualitas dari liga kita yang cenderung minim prestasi malah maksimal rusuh (baik dari pemain maupun suporter)

     Ketika mereka mengeluarkan statement-statement yang lebih mengedepankan liga-liga sepakbola luar, saya hanya mampu menjawab saya orang Indonesia, saya bangga atas apa yang saya punya. 

     Tidak hanya itu, saya sering terlibat konflik dengan keluarga dari ayah saya yang seluruhnya mendukung klub rival yang asalnya dari kota Bandung. Mereka selalu bertanya, kenapa? Saya hanya menjawab, Jakarta. Saya lahir, besar dan berdiri disini, bangga dan cinta lahir atas kota ini.

   Jadi jika ada yang bertanya kenapa suka sepakbola, jelas karena keluarga. Tetapi, kenapa Persija? Dengan sangat jelas saya menjawab, Persija itu representasi rasa cinta dan bangga saya sebagai Pemudi Jakarta dan Indonesia atas kota dan negerinya.

BOYCOOT

Oleh : Rajiva Rendy Baskoro  

 

    Gue cuma mau sekedar membuat sebuah tulisan refleksi, tentang kenapa si kita harus boikot, dan menyatakan diri untuk tidak hadir di GBK untuk mendukung "khususnya" Tim Nasional sepakbola u-23 di ajang Sea Games dan Tim Nasional Senior di ajang PPD.

     Sebelumnya, kenapa si kita harus boikot Tim Nasional sepakbola kita? Seperti yang rekan-rekan ketahui bersama, saat ini Persija Jakarta, sebagai klub sepakbola kebanggaan warga Jakarta tengah mengalami kondisi yang kurang baik. PSSI sebagai federasi dimana Persija Jakarta bernaung didalamnya, telah melakukan kesewenang-wenangan, dimana mereka secara jelas mengabaikan fakta-fakta bahwa PT. Persija Jaya Jakarta merupakan operator resmi Persija yang sah, karena didukung mayoritas klub-klub anggota melalui mekanisme pemilihan yang sah, pemain, dan pendukung.

     Walaupun dengan pernyataan ini, bukan berarti kita menjadi pendukung buta PT. Persija Jaya Jakarta (selanjutnya disingkat PJJ). Tidak. Sama sekali tidak. Sebagai suporter, kita juga harus menjadi oposisi bagi PT. PJJ, mengkritisi apa yang menjadi kebijakan klub. Karena peran suporter tidak hanya sekedar member dukungan, tapi juga sebagai penyeimbang, agar sistem dalam sebuah klub sepakbola tetap berjalan.

     Namun yang kita perjuangkan adalah, apa yang telah menjadi konsensus, apa yang sudah berjalan pada relnya. Dan karena penunjukan PT. Persija Jaya (selanjutnya disingkat PJ) oleh PSSI, tidak sesuai pada relnya, maka timbul lah penolakan-penolakan dari kita semua. Karena segala sesuatu yang dari awalnya tidak berjalan dengan benar, maka sampai kapanpun tidak akan menjadi benar.

     Untuk itulah kita melakukan aksi-aksi seperti demonstrasi ke kantor PSSI, melakukan propaganda melalui media, mengkampanyekan hastag “#SavePersija”, dan lain-lain. Namun upaya-upaya itu sama sekali tidak mendapatkan tanggapan dari para petinggi federasi. Dan sebagai manusia yang diberi kemampuan berfikir, kita tentu terus mencari cara agar suara kita dapat didengar, agar apa yang menjadi tujuan-tujuan kita tercapai.

     Dan kebijakan revolusioner pun diambil. Kebijakan itu berupa BOIKOT terhadap Tim Nasional sepak bola Indonesia. Kebijakan ini mungkin opsi terakhir yang bisa kita lakukan agar suara kita bisa didengar. Dan segala sesuatu pasti mengandung konsekuensi logis. Termasuk keputusan kita sebagai Suporter Persija untuk memboikot Tim Nasional, tentu mendapat banyak cibiran dan cemooh dari orang lain.

     Tapi, Hey!!! Peduli setan dengan mereka yang memandang sebelah mata kita. Mereka tidak berada dalam situasi dan kondisi yang sama dengan kita, mereka tidak merasakan apa yang kita rasakan sebagai suporter Persija yang sejati.

     Ingat, kita menjadi Warga Negara Indonesia merupakan keharusan. Saat kita lahir di wilayah ini, maka kita harus menjadi orang Indonesia. Dan segala hal yang berbau Indonesia telah tertanam kuat dihati kita semua dan 240 juta manusia lainnya. Dan pada akhirnya kita menjadi pendukung sejati segala hal yang berhubungan dengan Indonesia, termasuk Tim Nasional sepakbolanya, sampai kapanpun.

     Tapi tidak demikian dengan Persija. Apakah 8 juta penduduk Jakarta, diberi kewajiban harus mencintai Persija? Tidak. Dari 8 juta itu mungkin hanya ratusan ribu manusia yang menjadikan Persija idolanya, dari ratusan ribu itu, mungkin hanya ribuan yang menjadikan Persija kebanggaan sekaligus identitasnya. Dan dari ribuan itu mungkin hanya segelintir yang mau memperjuangkan apa yang menjadi kebanggaannya, yang mau merasakan apa yang dirasakan kebanggaannya dengan segenap jiwa raga. Dan akan menjadi kehormatan untuk kita, bila kita bisa menjadi bagian dari yang segelintir itu.

     Dan apakah salah kalau saat ini, kita sedikit mencurahkan perhatian kita untuk Persija? Toh bagaimanapun Ke-Indonesiaan kita tak akan pernah pudar. Cinta dan dukungan kita untuk Tim Nasional akan tetap sama sampai kapanpun. Bukankah untuk mencapai suatu tujuan, kita harus mengorbankan yang lain? Ini memang pilihan yang berat dan amat menyakitkan. Tapi sebagai manusia yang berprinsip, kita harus fokus kepada apa yang telah kita putuskan, karena hanya dengan fokus kita bisa mewujudkan apa yang menjadi cita-cita kita.

     Mengutip pernyataan Pangeran Siahaan dalam tulisannya di http://www.beritasatu.com/blog/olahraga/1104-boikot--pernyataan-politik-suporter-sepakbola.html.

     "Sebagai metode demonstrasi politik dalam sepakbola, boikot bukanlah barang baru yang dilakukan suporter tetapi salah satu yang paling efektif. Dengan melakukan aksi boikot, maka sepakbola kehilangan unsur penting yang seharusnya tak boleh hilang dalam pertandingan, yaitu penonton. Sebagai sebuah bentuk protes, maka boikot akan memukul telak pihak-pihak yang menghelat pertandingan, seperti klub ataupun federasi sepakbola.” (Pangeran Siahaan)

     Bagian yang di miringkan itulah tujuan yang harus kita pahami sebagai suporter Persija saat kita melakukan boikot. Tapi nonton Tim Nasional kan hak? Ya memang. Tapi perlu diingat, saat kita memutuskan diri menjadi anggota The Jakmania, ataupun menjadi bagian komunitas Orange Street Boys itu bukan paksaan, tapi dating dari keinginan diri sendiri. Dan saat kita memutuskan bergabung, ada ketentuan-ketentuan dan kesepakatan-kesepakatan yang harus kita ikuti sebagai bagian dari kelompok.

     Kalo kita nonton tapi tidak pakai atribut Jakmania gimana? Ya sama aja. Tujuan kita boikot itu kan untuk menggembosi jumlah penonton Tim Nasional, sehingga akhirnya PSSI kebakaran jenggot, dan akhirnya melakukan lobi-lobi untuk meminta kita hadir. Pada saat itulah kita memiliki Bergaining Position atau posisi tawar yang tinggi kepada PSSI untuk mensahkan PT yang sah untuk menjadi operator Persija.

     Nah kalau kita tetap hadir di stadion, walaupun tidak memakai atribut Jakmania atau Persija, apakah misi kita untuk menggembosi jumlah penonton Tim Nasional akan berhasil? Kalau 15.000 suporter Persija berfikiran seperti itu, dan tetap hadir di stadion walau tanpa atribut, bukankah stadion akan tetap menjadi penuh? Dan PSSI pun akan berfikiran, tanpa adanya Jakmania pun Stadion tetap penuh kok. Jadi ya sana boikot aja terus. Dan akan menjadi ironi bila ternyata yang hadir di dalam stadion merupakan rekan-rekan kita sesama pendukung Persija yang seharusnya mereka menahan diri untuk tidak hadir dulu untuk beberapa waktu.

     Sehingga tujuan kita untuk membuat PSSI kebakaran jenggot dan memaksa mereka untuk melakukan lobi-lobi dengan kita menjadi gagal. Dan kalau aksi boikot ternyata tidak juga bisa membuat PSSI bergeming atas keputusannya mensahkan PT. PJ dan menggantinya dengan PT. PJJ, dikarenakan sebahagian dari kita yang tidak memahami esensi dari aksi boikot yang menjadi pilihan awal itu, adakah cara lain atau ide lain untuk membuat PSSI membuka matanya???

     “Esensi dari aksi boikot sebenarnya sederhana. Apa yang akan federasi atau klub lakukan jika penonton sebagai target pasar tidak senang dengan apa yang disuguhkan? Apakah mereka akan mengganti penonton tersebut dengan penonton lainnya? Bagaimana jika mereka tak tergantikan? Seberapa kuat federasi/klub akan terpukul jika suporter ngambek?” (Pangeran Siahaan)

     “Sebagai bagian tak terpisahkan dari sebuah tim sepakbola, berusaha membuat dirinya didengar. Bila Trias Politica sepakbola dipetakan menjadi FA (federasi)-Klub-Pemain, maka suporter sebagai entitas yang berada di luar piramida kekuasaan sesungguhnya adalah pihak yang rentan terhadap kesewenangan. Maka boikot sebagai sebuah bentuk protes adalah alat yang efektif untuk menyeimbangkan kekuasaan.” (Pangeran Siahaan)

     Semoga rekan-rekan menjadi lebih paham akan makna dari langkah yang kita ambil. Mengutip kata Bung Ferry, bahwa komunitas terbentuk atas isme, atas asas yang menjadi dasar prinsipil kita untuk bertindak dan bergerak.

     Dan komunitas akan menjadi solid, bila ada kesesuaian yang diwujudkan dari kesamaan pandangan dan kemufakatan dari masing-masing individu yang terlibat didalamnya. Dan semua sama-sama komit terhadap apa yang telah menjadi keputusan. Dan semoga rekan-rekan paham, mengapa langkah boikot harus kita ambil.

     Akhir kata, kita berharap masalah yang mendera Persija kita cepat selesai. Sehingga aksi boikot ini dapat secepatnya kita akhiri. Dan kita kembali ke teras kita, untuk membela dan meneriakkan panji-panji Persija Jakarta yang mewakili kedaerahaan kita, dan Indonesia yang mewakili kebangsaan kita.

# SAVE PERSIJA


Oleh : Ir. Tauhid Ferry Indrasjarief
 
 
Jumat, 28 Oktober 2011

     Kongres Persija sudah selesai dan kita sama2 tau kalo pak Ferry Paulus terpilih menjadi Ketua Umum Persija yg baru. Kongres, seperti sudah dikhawatirkan sebelumnya, berjalan dengan panas. Tadinya diperkirakan klub2 yg terdepak di masa kepemimpinan Pak Toni Tobias akan hadir dan melakukan gerakan yg bisa menghambat jalannya kongres. Namun itu tidak terjadi. Bang Biner yang hadir disana ternyata lebih memilih menjadi saksi diam dan mencoba memahami segala keputusan Kongres. Justru Pak Toni Tobias yg bersikap kayak cacing kepanasan. Dia jadi satu-satunya calon ketua umum yang tidak pernah diam duduk manis di tempatnya melainkan mondar mandir keluar masuk ruangan, teriak2 protes, potong2 pembicaraan orang, dst dst dst. Apa sih yg diprotes sama Pak Tony?

     Pak Ferry Paulus dianggap sebagai orang luar, bukan orang Persija, dan dia tidak boleh ikut maju dalam pencalonan Ketua Umum Persija. Hmmmmm, aneh nih. Padahal selesai Kongres, gw diajak Pak Kusheri, Ketua Formatur ke kamarnya dan disitu beliau ngasi liat selembar surat yg ditandatangani oleh Pak Toni Tobias. Isi Surat itu adalah keputusan Rapat Umum Anggota pada pertemuan sebelumnya yang mengijinkan siapapun untuk maju dalam pencalonan selama dia tidak terlibat di klub profesional yang lain. Dalam Kongres tsb Pak Ferry keluar sebagai pemenang dengan mendapat dukungan dari 14 klub internal Persija, sementara Pak Tony mendapat dukungan dari 6 klub. Satu klub lagi memberikan dukungan pada calon ketiga Bapak Benny Erwin. Selesai Kongres, Pak Toni masih terus berteriak-teriak menolak hasil kongres sehingga harus ditenangkan oleh pihak keamanan.

     The Jakmania hadir dan terlibat aktif dalam Kongres tsb. Awalnya gw juga agak terkejut dengan kehadiran the Jakmania, karena dalam notes sebelumnya, Donny Korwil Kemayoran sempat menanyakan ke gw apakah the Jakmania boleh hadir? Jawaban gw waktu itu adalah "silahkan sejauh tidak melakukan intervensi dalam sidang dan tidak memaksakan diri bila tidak diijinkan masuk". Tapi yang hadir disana ternyata cukup banyak juga. Dipimpin Ketua Umum the Jakmania Larico Ranggamone, para korlap dan pengurus lainnya bahkan terlibat aktif dalam Kongres. Rico sempat menjelaskan kalo Pak Kusheri memang sempat minta bantuan the Jakmania tuk ikut mensukseskan Kongres Persija dan terlibat aktif dalam kepanitiaan. Sejauh pandangan gw, kehadiran the Jakmania amat sangat bermanfaat dan mampu menjaga Kongres berjalan dengan sehat tanpa ada rasa tidak nyaman dari para peserta Kongres.

     Bapak Ferry Paulus langsung bergerak cepat. Yang pertama dilakukan adalah mengunjungi Bapak Harianto Bajoeri Manajer sekaligus Pengelola Persija selama ini. Kedua tokoh ini bersepakat tuk bahu membahu menangani Persija di kompetisi musim depan. Sayang, belakangan Bapak Bajoeri kesehatannya terganggu dan harus melakukan perawatan intensif. Sampai tulisan ini dibuat, beliau masih berada di Singapura tuk membantu proses penyembuhan. Sesuai dengan ketentuan dari PSSI, setiap klub yang akan mengikuti kompetisi level tertinggi harus melakukan pendaftaran ulang dengan menyerahkan 15 item. Mulai dari akte notaris PT Persija Jaya jakarta, laporan keuangan tim musim kompetisi sebelumnya, kontrak kerjasama dengan pengelola stadion yg akan jadi kandang Persija, laporan kegiatan sosial Tim Persija musim lalu, Surat Pernyataan wakil Pelatih & Pemain bahwa Klub tidak mempunyai tunggakan apapun, dll. Sebagian dari persyaratan itu karena memang berkaitan dengan tim Persija musim lalu, langsung gw serahkan ke PT Persija Jaya Jakarta selaku pengelola Persija.

     Selain masalah legalitas, Pak Ferry juga mengajak gw tuk membentuk Tim Persija. Pendekatan langsung dilakukan di Solo ketika akan diadakan ujicoba antara Tim Nasional Senior melawan Tim Nasional u23. Kebetulan kita menginap di hotel yang sama dengan Tim Nasional u23 sehingga dalam waktu singkat kita langsung mendapat kesepakatan dengan 6 orang pemain : Andretany, Ngurah Wahyu Nanak, Hasyim Kipuw, Ramdani Lestaluhu, Dirga Lasut dan Johan Juansyah. Satu nama lagi yakni Ricky Mokodompit gagal dicapai kesepakatan karena yg bersangkutan sudah terlebih dahulu melakukan negosiasi dengan Sriwijaya FC.  Untuk Tim Senior memang negosiasi berjalan dengan alot dan harus diselesaikan beberapa minggu kemudian. 5 pemain yang berada di Tim Senior : Bepe, Ilham, Tony, Ambrizal dan Nasuha kita tawarkan kontrak baru. Semuanya minta waktu tuk mengambil keputusan sekalian rundingan dengan keluarga masing-masing.
 
     PT Persija Jaya Jakarta menjadi tim terakhir yang menyerahkan semua persyaratan pendaftaran. Dalam kantor PSSI, kita bertemu dengan Persela Lamongan yang juga sedang menyerahkan pendaftarannya serta 2 tim lain yang kalo ga salah ada Batavia Union juga disana. Verifikasi yang menurut gw lebih mirip anwijzing itu akhirnya selesai dan kita dinyatakan telah melengkapi semua persyaratan pendaftaran, namun sah atau tidaknya baru akan ditentukan beberapa hari kemudian sekaligus nilai yang diperoleh dari proposal kita. Anehnya, PSSI mengaku ada 3 pihak yang mendaftarkan Persija. Selain Tim Pak Ferry Paulus, ada juga Hadi Basalamah dkk dengan PT Persija Jaya, serta Toni Tobias yang ga jelas bawa bendera PT yg mana. Kerancuan ini membuat PSSI ingin melakukan pertemuan dengan ketiga pihak tsb untuk sekedar melakukan mediasi.

     Saat mediasi dilakukan, ternyata pak Toni Tobias tidak hadir dan Sihar SItorus wakil dari PSSI menganggap ketidakhadiran tsb sebagai tindakan mengundurkan diri dari persaingan dan untuk selanjutnya dianggap gugur. Dalam mediasi ini tidak menghasilkan sebuah keputusan. Justru Benny Erwin selaku Dirut PT Persija Jaya yang berinisiatif untuk melakukan rapat antar direksi dan komisaris di PT tsb.
 
      Setelah pertemuan ini, diagendakan kembali untuk pertemuan berikutnya. 3 hari kemudian mediasi kedua dilakukan lagi di kantor PSSI. Sayang, kali ini hanya Ferry Paulus dkk yang hadir, sementara Hadi Basalamah dkk tidak nongol. Dalam dialog tsb sempat keluar kata2 dari Pak SIhar yang menyatakan bahwa berkas pendaftaran dari PT Persija Jaya Jakarta pimpinan Ferry Paulus jauh lebih lengkap dibandingkan PT Persija Jaya pimpinan Hadi Basalamah. Dan Sihar juga berjanji akan cepat memutuskan siapa yang berhak mengelola Persija di musim kompetisi berikutnya.
 
     Sambil menunggu keputusan PSSI, Persija terus melakukan pembenahan tim. Diadakan workshop untuk para calon pelatih Persija yang dihadiri oleh perwakilan pelatih2 klub internal Persija serta beberapa asisten pelatih yang pernah menangani Persija. Workshop yang dilanjutkan tes pada keesokan harinya, akhirnya menghasilkan beberapa nama : Sudirman & Miftah (Asisten Pelatih), Haryono (Pelatih Kiper), Agus Sugeng (Pelatih Fisik), Enal (Pelatih Persija U21), Sugianto (Pelatih Kiper Akademi Sepakbola Persija), dll. Diputuskan juga dr. Nanang yang akan menjadi Tim Medis Persija di musim kompetisi mendatang. Pelatih Kepala, Bapak Ferry Paulus sudah memutuskan tuk mengkontrak Dejan Glusevic, mantan striker Bandung Raya dan Pelita Jaya, serta pernah menangani klub di Canada dan terakhir menangani Tim Nasional u15 Singapura.
 
     Dari pemain akhirnya dicapai juga kesepakatan dengan Bepe, Ismed, Leo, Amarzukih, Oktavianus, dan Alan Martha. Ambrizal memilih kembali ke kampung halamannya PSPS Pekanbaru agar bisa lebih dekat dengan keluarga. Ilham, Tony dan Nasuha tidak tercapai kesepakatan dan akhirnya berlabuh ke Persib Bandung. Persija juga memilih Pedro Javier mantan striker Persibom dan terakhir main di klub Paraguay. Kemudian ada nama Robertino Pugliara yg kembali ke Persija setelah selama 2 tahun berada di Persiba Balikpapan. Di barisan belakang pilihan jatuh pada Fabiano Beltrame, dari Persela Lamongan. Dari pemain lokal muncul nama Ardan Aras dari Pelita Jaya, Galih Sudaryono Persiba Balikpapan, serta Bagus Jiwo Solo FC.
 
      Persija juga melakukan seleksi pemain2 yang berasal dari klub2 internal Persija selama 3 hari penuh di Stadion Lebak Bulus Jakarta Selatan. Dari 150 pemain yang ikut di hari pertama, mengkrucut menjadi 50an di hari kedua, dan 30an di hari terakhir. Dari sekian banyak pemain seleksi, 8 diantaranya dinyatakan lolos dan akan bergabung dengan Persija. Ke 8 pemain tsb adalah Redik, Soleman, Reza, Delton, Rudi, Tommy, Arief, dan Ihwan. Ke 8 pemain junior tsb langsung bergabung bersama para seniornya tuk mengikuti program latihan di Stadion Ciracas Jakarta Timur.

     Persiapan yang begitu matang tiba2 dikejutkan dengan keluarnya keputusan PSSI yang mensahkan PT Persija Jaya Hadi Basalamah sebagai Pengelola Persija. PENASARAN ! Itu yg ada dalam benak gw seketika. Atas dasar apa mereka yang menang? Semua laporan keuangan, laporan kegiatan, tanda tangan pemain & pelatih, kontrak kerja, itu gw serahkan ke PT Persija Jaya Jakarta pimpinan Pak Ferry Paulus. Lalu apa yang dilampirkan dalam berkas pendaftaran PT Persija Jaya? PSSI sangat tertutup dalam hal ini. Termasuk protes dari Direktur Utama PT Persija Jaya Pak Benny Erwin yang merasa tidak pernah mendaftarkan PT nya untuk mengelola Persija. Efek dari keputusan ini membuat beberapa pemain lari ke klub lain. Ardan Aras pindah ke Mitra Kukar, Dirga Lasut kabarnya juga berniat kesana, sementara Greg Nwokolo ke Pelita Jaya.

      Tidak terima dengan keputusan ini, Persija lewat pengacaranya Pak Gusti Randa langsung melakukan somasi. Di Kantor PSSI, Persija diterima oleh seorang anggota Exco Pak Roberto Rouw, sementara di depan kantor PSSI, ratusan the Jakmania melakukan aksi lewat orasi dan lagu2 sebagai bentuk protes pada keputusan aneh PSSI. Sebelumnya, beberapa komunitas pecinta Persija sebetulnya sudah melakukan pergerakan. Diawali dengan demo para komunitas dari mulai Jakonline, Jakampus, Jakantor, Orange Street Boys, Ultras, Tiger Bois, Barrabravas, Onthe Oren dan beberapa perwakilan dari Oren Outsider serta Korwil, mereka melakukan orasi di depan kantor PSSI tuk minta ketegasan agar tidak mengakomodir Kelompok Hadi Basalamah tuk menangani Persija.

     Persija lovers ga berhenti sampai disitu. Beberapa rekan mencetuskan ide gerakan #SAVE PERSIJA sebagai bentuk kepedulian pada tim kebanggaan. Sebuah desain buatan Jakaskus dipatenkan menjadi lambang gerakan yang dituangkan dalam bentuk Spanduk, Kaos, Foto Profil Fesbuk/Blackberry dan lain sebagainya. Sejak saat itu dimulailah perjuangan para Persija Lovers untuk menyuarakan hati.
 
     Di beberapa pelosok sudut kota Jakarta mulai tampak tuisan2, pamflet dan spanduk #SAVE PERSIJA. Semua aksi ini benar2 atas inisiatif para komunitas pecinta Persija. Jakampus, Tiger Bois, Orange Street Boys, RKJ, Jakantor, Jakjogja, Jakaltim termasuk yang aktif menyuarakan gerakan ini. Di dunia maya Jakonline dan Jakaskus juga tidak ada hari tanpa #SAVE PERSIJA. Gerakan ini akhirnya menarik perhatian media masa, mulai dari O Channel, RRI, Elshinta dan beberapa media cetak mulai memberitakan. Temen2 kantor gw juga banyak yg bertanya masalah ini, dan mereka juga ikut aktif menggunakan #SAVE PERSIJA dalam fesbuk/bb mereka.

      Puncaknya adalah ketika 53 korwil the Jakmania lewat pimpinannya Sdr Suryadi Ketua 3 the Jakmania mengajukan permohonan ke gw tuk diadakan pertemuan dengan klub2 internal Persija sebagai ajang untuk mendorong (baca : memotivasi) mereka tuk terus menyuarakan dukungan pada Ferry Paulus. Acara tsb diselenggarakan di Ruang Pers VIP Barat Stadion Utama Senayan.
 
    Berturut-turut Suryadi, Komarul Korwil Kelapa Gading Timur, Doni Korwil Kemayoran dan ditutup Ayah Rico Ketua Umum the Jakmania juga dengan tegas menyatakan dukungannya pada Pak Ferry Paulus dan minta ketegasan dari klub2 internal untuk terus memberikan dukungan dalam bentuk nyata. Pernyataan para korwil itu kemudian mereka tuangkan dalam bentuk tanda tangan pada sebuah banner yang mereka siapkan dan tertulis nama ke 53 korwil tsb. Rencananya banner tsb akan dipasang di depan Sekretariat the Jakmania. Tidak hanya disitu, Korwil Pondok Pinang dan Pademangan menjadi yang terdepan dalam menunjukkan komitmen mereka. Beberapa spanduk sudah mereka bentangkan di wilayah mereka.

     Sejauh ini PSSI tetap tidak bergeming. Mereka ngotot mendukung kelompok Hadi Basalamah yang juga sedang mempersiapkan diri di Lapangan Halim Jakarta TImur. Mereka tidak peduli, meski dukungan ke Ferry Paulus juga datang dari Pemda DKI lewat Walikota Jakarta Pusat Bapak Saefullah dan Kadinas OR yg mendapat amanat langsung dari Gubernur DKI. Justru mereka sekarang sedang berusaha mengambil hati the Jakmania dengan mencoba menciptakan imej kalo versi merekalah yg benar. Kostum League mereka palsukan, beberapa pengurus inti the Jakmania coba mereka dekati, dan mereka juga mengklaim kalo beberapa pemain ikon Persija sudah siap bergabung. Lagi2 sebuah pembohongan publik !!! Tidak ada satupun pemain Persija yang berniat gabung dengan mereka. Namun dualisme ini mau ga mau mengganggu persiapan tim. Greg memilih Pelita Jaya, Ardan Aras ke Mitra Kukar, menyusul Dirga Lasut yg berkeinginan gabung ke Mitra Kukar pula.

     Belakangan, di PSSI juga terjadi perpecahan. Tindakan main tabrak dari pengurus PSSI macam Djohar Arifin, Farid Rahman dan Sihar Sitorus membuat gerah beberapa pengurus Exco lainnya. Dimotori oleh Lanyala dan Roberto Rouw, beberapa klub tetap berpegang pada hasil kongres PSSI di Bali 2009 yang menyatakan Kompetisi level tertinggi diselenggarakan oleh PT Liga Indonesia, Kompetisi bernama Liga Super Indonesia dan diikuti oleh 18 klub. PT Liga Indonesia juga dengan tegas mengakui kubu Ferry Paulus sebagai administrator Persija di Liga.
 
       Kondisi ini menggairahkan lagi suasana latihan Persija. Direktur Tehnik Iwan Setiawan turun gunung langsung menangani tim sampai Persija mendapatkan Pelatih Kepala. Ujicoba melawan klub2 internal dilaksanakan. Dan antusiasme the Jakmania juga ditunjukkan dengan kehadiran mereka dalam jumlah besar saat latihan apalagi saat ujicoba. Dalam partai ujicoba terakhir melawan PS Setia, Ketua Umum the Jakmania yang berada di pinggir lapangan sampai harus menitikkan airmata melihat atmosfir dukungan yg tercipta disana. Ultras dan Jakantor menyalakan Red Flare sementara kelompok lain terus menyanyikan lagu2 penyemangat.

     Namun PERJUANGAN BELUM SELESAI, KAWAN ! Selama PSSI masih belum sadar, selama masih ada pihak lain yg mencuri kesebelasan kebanggaan, selama itu pula kita harus terus bergerak! Buat semua pihak yg mengaku cinta Persija.... JANGAN DIAM! Karena diam hanya untuk orang orang kalah. JANGAN CUMA BERKOAR...... Karena berkoar hanya untuk orang orang sombong. MULUT - HATI - PERBUATAN harus sejalan! Tidak perlu harus turun ke jalan, tidak perlu harus tunggu komando, lakukan apa yg bisa dilakukan. Rekan2 Komunitas dan Korwil sudah memberi contoh, sekarang tinggal kreativitas kalian dalam menunjukkan SUARA HATI ini. Jakboys, rapper yg selalu menciptakan lagu-lagu Persija juga sudah mencitakan lagu baru. Sebuah lagu yang mencerminkan kegusaran hati, sebuah lagu yang sangat mewakili suara hati, sebuah lagu yang berjudul ..........  JANGAN GANGGU PERSIJA KAMI !!!

The Jakmania kontra Viking

Oleh : Ir. Tauhid Ferry Indrasjarief

     Perseteruan antar suporter Persija dan Persib sudah berlangsung lama, tepatnya sejak tahun 2000 yaitu bertepatan dengan Liga Indonesia 6 berlangsung. Di putaran 1 sekitar 6 buah bis suporter Persib datang ke Lebak Bulus dan masuk ke Tribun Timur. Mereka terdiri dari banyak unit suporter seperti Balad Persib, Jurig, Stone Lovers, ABCD, Viking dll. Saat itu yang terbesar masih Balad Persib. Meski sempat nyaris terjadi gesekan dengan the Jakmania, tapi alhamdulilah tidak terjadi bentrokan yang lebih luas. Justru suporter Persib bergerak ke arah the Jakmania tuk berjabat tangan. Gw inget banget yel mereka waktu itu : “ABCD … Anak Bandung Cinta Damai”. Selesai pertandingan suporter Persib juga didampingi the Jakmania menuju bus mereka. The Jakmania mengikuti dengan menyanyikan lagu Halo Halo Bandung.

     Penerimaan The Jakmania membuat Viking berniat tuk mengundang datang ke Bandung saat putaran 2. Dialog berlangsung lancar karena seorang Pengurus the Jakmania yang bernama Erwan rajin ke Bandung tuk bikin kaos. Hubungan Erwan dengan Ayi Beutik juga konon akrab banget sampe2 Erwan pernah cerita kalo dia suka sama adiknya Ayi Beutik. Melalui Erwan jugalah Viking menyatakan keinginannya tuk mengundang dan menyambut the Jakmania di Bandung meski mereka sendiri masih khawatir dengan sikap bobotoh yang lain.

     The Jakmania saat itu belum sebesar sekarang. Yang nonton di Lebak Bulus aja cuma di sisi Selatan tribun Timur. Jadi bersebelahan dengan Viking. Nah ajakan Viking itu langsung kita bahas, dan kita memang sudah punya niat tuk melakoni partai tandang. Dibentuklah kemudian perencanaan, salah satunya dengan mengutus Sekum dan Bendahara Umum the Jakmania saat itu yaitu Sdr Faisal dan Sdr Danang. Mereka ditugaskan tuk melobi Panpel Persib dari mulai masalah tiket hingga tribun the Jakmania. Kebetulan Danang lagi kuliah di Bandung sehingga tempat kosnya jadi tempat kumpulnya the Jakers disana. Selain mereka berdua memang adalagi yang menawarkan diri tuk bantu seperti Sdr Budi Rawa Belong.

     Jujur gw katakan kita memang belum pengalaman mengkoordinasikan anggota tuk nonton tandang. Tapi yang menjadi masalah justru bukan di koordinator tapi di anggota. Banyak anggota yang bandel daftar pada hari H nya. Jumlah yang tadinya cuma 400 orang berkembang menjadi 1000 orang lebih! Bayangin gimana repotnya kita nyari bis tuk ngangkut segitu banyak orang. Akibatnya kita berangkat baru jam 12 siang! Itu juga terpecah menjadi 3 rombongan. Satu bis berangkat lebih dulu karena akan ganti ban. Disusul 4 bus kemudian. Dan terakhir termasuk gw berangkat dengan 4 bus tambahan.

     Keberangkatan kita sendiri juga masih diliputi keraguan apakah dapat tiket atau tidak. Tim Advance yang diutus mendapatkan kesulitan mencari tiket. 4 hari sebelum pertandingan terjadi kerusuhan di stadion Siliwangi akibat distribusi tiket yang kurang lancar. Ada seorang Vikers yang menganjurkan the Jak tuk hadir di acara khusus pertemuan tim dengan suporternya. Faisal, Danang dan Budi ambil keputusan tuk hadir di acara itu. Disana mereka sempat bertemu Walikota Bandung, Kapolres, Ketua Panpel dan Ketua Keamanan. Mereka semua menjamin bahwa the Jakmania akan bisa masuk dan tiket akan disiapkan khusus. Paling tidak itulah info yang gw dapet dari tim Advance.

     Satu bis pertama tiba di Stadion Siliwangi. Viking siap menyambut dan mempersilahkan masuk ke stadion, padahal tiket belum di tangan. Sayang hal yang dikhawatirkan Viking terbukti. Perlahan tapi makin lama makin banyak datanglah bobotoh nyamperin the Jak dengan sikap yang tidak simpatik. Melihat gelagat buruk ini Viking minta the Jak tuk keluar dulu ke stadion sambil menunggu rombongan berikut. Sembari menunggu, beberapa rekan ada yang melaksanakan sholat ashar dulu. Ketika selesai sholat, mulailah terjadi hal2 yang tidak diinginkan. Rekan2 kita mendapatkan pukulan disana sini dengan menggunakan kayu. Salah satunya (gw lupa namanya) tersungkur berlumuran darah yang keluar dari kepalanya. Melihat situasi ini the Jakmania kembali diungsikan menjauh dari stadion.

     Rombongan besar 8 buah bis akhirnya tiba juga. Tapi karena terlambat, stadion Siliwangi sudah penuh sesak. Lagipula kita tetap tidak berhasil mendapatkan tiket. Panpel memang kelihatan salah tingkah dan berusaha mengumpulkan dari calo2 yang masih beredar di sekitar stadion, namun jumlahnya juga tidak memadai hanya 300 lembar. Sementara bobotoh yang masih berada di luar juga mulai melakukan serangan terhadap the Jakmania. Gw sempet coba menenangkan dan cekcok dengan seorang bobotoh yang ngambil dengan paksa kacamata anggota kita. Bobotoh itu bilang kalo dia kesal sama anak Jakarta karena mereka juga diperlakukan dengan tidak simpatik di Jakarta ketika menyaksikan pertandingan Persijatim vs Persib di Lebak Bulus. Mereka tidak mau tau kalo Persijatim tu beda dengan Persija. Seingat gw kejadian ini sempat direkam foto oleh wartawan dari Tabloid GO dan terpampang jelas esoknya di media tersebut. Dan kalo ga salah yang nyerang kita tu pake kaos Stone Lovers dan Persib. Mungkin ada juga yang laen karena gw dah lupa dan kurang jelas.

     Gw lalu ngambil inisiatif tuk nyari rombongan pertama yang dateng duluan dan mengajak mereka tuk gabung ke rombongan besar. Disana gw minta maaf ke semua anggota karena gagal membawa rombongan sampai masuk ke stadion. Di situ dari Panpel juga sempat minta maaf. Namun kondisi ini tidak bisa diterima oleh seluruh rombongan, bahkan mereka juga tidak mau berjabat tangan dengan 3 orang Viking yang masih setia mengawal meski pertandingan sudah berlangsung.

     Ketika rombongan hendak pulang, tiba2 kita diserang lagi oleh bobotoh yang masih nunggu di luar stadion. Kondisi ini jelas tidak bisa diterima. Sudah ga bisa masuk masih juga diserang. Akhirnya kita balas perlakuan mereka. Jumlah bobotoh di luar stadion masih ratusan sehingga terjadilah bentrokan yang mengakibatkan pecahnya kaca2 mobil akibat terkena lemparan dari kedua kubu. Ketika polisi datang, keributan mereda dan the Jakmania mulai beranjak pulang. Sempat pula terjadi bentrok beberapa kali ketika rombongan berpapasan dengan bobotoh yang pulang karena tidak kebagian tiket.

     Beberapa waktu kemudian ketika Tim Nasional akan bertanding di Senayan, Viking Jakarta berniat datang. Gw melihat gelagat kurang baik jadi gw minta mereka tuk selalu jalan berdampingan dengan gw. Ketika pertandingan selesai, ada sedikit cekcok antara beberapa orang the Jakmania dengan pendukung PSIS Panser Biru Jakarta. Gw kemudian meminta Sdr Aceng tuk ngawal Panser Biru hingga mereka pulang. Ketika gw hendak kembali ke rombongan Viking, ternyata mereka sudah diserang oleh sekelompok the Jakmania. Buru2 gw lari kesana dan ngambil lagi syal Persib yang sudah diambil. Viking gw kawal trus dibantu seorang anggota dari Tanjung Duren.
 
     Di depan, seorang anggota Viking yang mengalami serangan jantung dibawa naik taksi tuk pulang. Sisanya gw temenin sampe Polda Metro Jaya. Kalo ga salah ada Viking Depok yang namanya Rusdi. Sebetulnya menurut gw serangan the Jak saat itu tidak separah ketika kejadian di Bandung. Toh tidak ada satupun anak Viking yang cedera. Cuma sayang ternyata di antara mereka ada juga yang berasal dari Bandung dan entah apa yang mereka ceritakan disana, Viking langsung membalas ketika kita bertandang ke Cimahi melawan Persikab Kabupaten Bandung.

     The Jakmania awalnya bebas bernyanyi dan memberikan dukungan ke Persija. Tapi Viking yang awalnya berada di seberang tribun kita mulai bergerak menghampiri tanpa ada satupun usaha pencegahan dari Panpel. Ketika dekat mereka langsung meneriakkan kata2 penuh kebencian disertai lemparan benda2 keras dan botol ke arah kita. Salah satunya mengenai Sdri Temi yang langsung jatuh pingsan. Gw coba menelpon Sdr Heru Joko Ketua Umum Viking tuk minta bantuan menghalau anggotanya. Heru saat itu bilang kalo dia masih di perjalanan tapi akan segera datang. Belakangan gw dapat kabar dari seorang wartawan kalo Heru ternyata sudah tiba sejak awal pertandingan …..???!!! Ketika pertandingan usai, Panpel meminta the Jakmania bertahan dulu di tengah lapangan hingga suasana aman.

     The Jakmania kemudian keluar stadion dengan pengawalan ketat. Diluar kita diangkut dengan truk polisi dan panser menuju jalan tol dimana bus2 kita sudah menunggu. Sampai disana kita mendapati bus kita dalam kondisi hancur berat. Salah seorang anggota yang usianya mencapai 70 tahun lebih ternyata sudah berada di dalam bis ketika penyerangan berlangsung. Dia jadi saksi bagaimana seluruh tas dan perbekalan diambil oleh Viking yang tidak bertanggung jawab tersebut. Gw langsung telpon lagi Heru Joko tuk protes keras kenapa dia tidak berusaha meredam amarah anggotanya dan kenapa dia berbohong mengatakan kalo dia belum tiba di stadion. Tidak ada penjelasan apapun yang memuaskan hati gw. Dan mulai saat itu gw pikir sangat sulit tuk berharap hubungan membaik bila pimpinan tidak berusaha tuk meredam api permusuhan ini.

     Sejak saat itulah api dendam dan permusuhan terus berkobar di kedua belah pihak. Puncaknya di acara Kuis Siapa Berani di Indosiar. Acara ini diprakarsai oleh Sigit Nugroho wartawan Bola yang terpilih menjadi Ketua Asosiasi Suporter Seluruh Indonesia. Waktu itu Sigit sempat telpon gw dan minta supaya the Jak yang dateng jangan banyak2 tuk menghindari bentrokan. Gw tunjuk 20 orang peserta dab 3 orang cadangan sesuai permintaan Indosiar, plus 1 orang lagi bagian dokumentasi. Mereka cuma gw ijinin pake 3 buah mobil pribadi, karena kalo gw nyewa bis nanti banyak yang ngikut. Gw sendiri ga ikut acara itu karena harus kerja.

     Sayang bentrokan ternyata ga bisa dihindari. Bukan gw memihak tapi faktanya memang Viking yang mulai. Mereka neriakin yel2 “Jakarta Banjir” yang dibales juga oleh the Jak. Suasana memanas hingga akhirnya terjadi benturan fisik. Ketika ditelpon gw langsung menuju Indosiar pake taksi. Sampe disana sebagian the Jakmania sudah diluar Indosiar, di dalam gw liat 6 orang the Jak sedang berselisih dengan Viking. Melihat hal yang tidak sebanding ini gw langsung mendesak ke arah Viking tanpa gw tau siapa yang gw serang itu. Sebelumnya gw nyamperin dulu Aremania dan Pasopati yang hadir disana. Yang gw heran kenapa Viking hadir disana dalam jumlah yang cukup besar, 2 bis berisi 74 orang.

     Letak Indosiar di Jakarta, jadi ga heran pelan2 berdatanganlah para suporter Persija kesana. Suasana sudah tidak terkendali dan atas inisiatif Polisi dan Indosiar, Viking langsung diungsikan dengan menggunakan truk Polisi. Namun kejadian ini ternyata dah menyebar luas kemana-mana hingga akhirnya terjadilah penyerangan terhadap rombongan Viking di tol Kebon Jeruk.

     Setelah kejadian itu gw beberapa kali mendapat panggilan dari pihak kepolisian. Saat itu gw membantah kalo terjadi penyerangan yang memang dikoordinir oleh the Jakmania. Juga gw bantah kalo terjadi perampokan. Gw juga heran gimana Viking menyatakan klo hadiah menang kuis dirampok the Jak padahal hadiah itu kan belum diserahkan pihak Indosiar. Hadiah untuk the Jak pun sampe sekarang ga kita terima. Saat itulah nama the Jakmania menjadi buruk. Di mata media the Jakmania tidak menerima kalah sehingga menyerang. Opini sudah terbentuk dan masyarakat di Bandung juga ikutan menghujat, sementara di Jakarta menyayangkan.

     Ya sudahlah. Biarin orang ngomong apa, tapi ga menyurutkan kebanggaan gw terhadap Persija dan the Jakmania apapun kondisinya. Paling tidak di mata gw sekarang Viking cuma bisa bekoar nantang tapi ketika kalah mereka malah ngadu ke polisi. Sesuatu yang dimata gw sangat tidak suporter.

     Semenjak terjadi permusuhan dengan the Jakmania, apalagi setelah kejadian Indosiar, Viking berkembang pesat menjadi suporter yang dominan di Bandung. Mereka terus menebarkan kebencian ke the Jak dengan mengeluarkan kaos2 dan lagu2 yang bersifat menghujat the Jak. Reaksi anggota the Jakmania juga heboh. Mereka rame2 bikin kaos yang balas menghujat viking. Tapi semua ga ada yang jadi karena gw melarang seorangpun tuk bikin kaos yang bertuliskan viking/persib meski dalam bentuk hujatanpun. Bagi gw tulisan yang pantas berada di kaos suporter Persija hanyalah PERSIJA dan THE JAKMANIA.

     Cuma akhirnya gw nyerah juga, biar gimana gw ga mungkin ngelawan arus trus. Ini terjadi ketika Ismed Sofyan diserang sama Viking di Bandung ketika uji lapangan. Kondisi kaya gini dah ga bisa gw terima. Sejak itulah bertubi-tubi keluar desain2 dan yel-yel serta lagu menghujat mereka. Cuma tetep ada bedanya the Jak sama Viking. Kalo the Jak nyanyi hujatan hanya saat pertandingan melawan Persib, tapi klo Viking sepertinya hendak melakukan propaganda kepada anggotanya dan masyarakat bola. Mereka terus melakukan hujatan meski saat itu Persib tanding melawan tim lain.

     Sikap ini justru malah mengobarkan api kebencian suporter Persija terhadap Viking. Sehingga the Jakers banyak yang benci mereka bukan karena tau kejadian awalnya, tapi karena mereka ga suka dikata-katain terus. Belakangan Komisi Disiplin mengeluarkan larangan akan hal-hal seperti ini. Terlambat! Dan penerapannya juga ga konsisten, masih banyak yang tetap melakukannya, bukan hanya Viking atau the Jakmania tapi hampir di semua stadion di Indonesia.

     Sebetulnya ada juga pihak2 yang mengusahakan perdamaian. Panpel Persib pernah berinisiatif mempertemukan the Jakmania dan Viking di Bandung. Gw sendiri hadir saat itu bersama 2 orang lagi, Heru Joko hadir bersama 3 orang temannya, Panpel Persib dan Manajer Persija saat itu Bpk IGK Manila. Tapi pertemuan tersebut buntu karena tidak ada niat dari Heru Joko tuk berdamai.

     Perseteruan makin melebar. Semakin banyak Viking yang masuk ke website the Jakmania dan menebarkan virus kebencian … semakin banyak dan besarlah kebencian the Jakers ke mereka. Bahkan Panglima Viking Ayi Beutik sempat mengeluarkan pernyataan tuk menjaga kelestarian permusuhan ini seperti Barcelona dan Real Madrid.

     Gw sih sebetulnya dah masa bodo dengan hal ini. Konsentrasi gw sekarang kan di tim, dan the Jakmania sudah punya pengurus yang baru. Tapi gw juga ga bisa tinggal diam bila permusuhan ini merembet ke tim masing2. Setelah beberapa kali mendapat perlakuan buruk tiap bermain di Bandung, akhirnya the Jak melakukan pembalasan pada bis Persib di Lebak Bulus. Jujur, gw tidak setuju dengan cara seperti ini, meski gw juga tidak menyalahkan. Seminggu sebelumnya gw dah bilang di forum the Jakmania di sekretariat Lebak Bulus, kalo Heru Joko ketua Viking, ikut bantu mengamankan bis Persija di Bandung. Ia bahkan berada langsung dalam bis Persija. Tapi masa disana memang sudah sulit terkendali bahkan oleh ketuanya sekalipun. Apa boleh buat? The Jakmania sudah melaksanakan pelampiasan dendamnya, sayangnya dengan melakukan tindakan yang sebelumnya mereka cela.

     Sekarang permusuhan the Jakmania kontra Viking menjadi warna tersendiri bagi sepakbola Indonesia. Seorang sutradara tertarik menjadikan perseteruan ini sebagai inspirasi dalam filmnya yang berjudul ROMEO & JULIET. Lucunya di tengah perseteruan, mereka justru kompak untuk menolak film ini dengan alasannya masing2. Bedanya di Bandung .. Ketua Viking dengan didukung anggotanya membuktikan ucapannya dengan menggagalkan pemutaran film ini. Sementara di Jakarta justru sebaliknya, meski pimpinan menyatakan akan menuntut tapi toh hampir semua bioskop2 di jabodetabek dipenuhi oleh orang oren yang memang sudah ga sabar menanti film ini diputar.

     Nah, itulah kisah panjang tentang permusuhan 2 kelompok suporter besar di Indonesia, paling engga dari kacamata gw. Tulisan ini dibuat atas permintaan seorang bobotoh yang penasaran dengan sebab musabab permusuhan tersebut. Gw juga ga suka dengan orang yang berkomentar sinis baik terhadap the Jakmania maupun Viking. Mereka itu tidak tau apa2, bisanya cuma menghakimi aje. Ada hak apa mereka menghujat? Liat dulu kisahnya baru mereka akan berpikir dan bantu mencarikan solusi.

     Klo lu tanya ke gw, masih ada ga kemungkinan damai? Jawabanya ‘bomat” alias bodo amat. Ngapain mikirin? Bagi gw damai tu bukan kata benda, tapi kata kerja. Jadi ga usah banyak ngomong deh, yang penting buktiin. Lebih baik mikirin KOMITMEN masing2 aje, lebih cinta mana kita sama PERSIJA atau sama PERMUSUHAN DENGAN VIKING?

Kita Tidak Terlahir dari Rahim Orang tua Kita

Oleh : Lintang Bawono


Untuk PERSIJA Lover's

     Mungkin saya terlalu berlebihan dalam memberikan judul yg anda baca sebelum anda membaca tulisan saya, lalu kenapa saya memberikan judul seperti itu, karena saya membicarakan realita. Percaya atau tidak itulah kita (setidaknya mayoritas diantara kita seperti itu). Mau tau kenapa saya memberi judul itu ?. Silahkan bersihkan hati anda dari anggapan yg tidak baik baru baca tulisan ini.

     PERSIJA Jakarta itulah sebuah nama yg tidak asing kita dengar, sebuah klub sepak bola dari ibu kota yg memiliki suporter loyal yg akrab di sebut dengan The Jakmania. Sebuah klub elite yg berada di Ibu Kota Jakarta ini tentunya bukan sesuatu yg menjajikan bahwa dengan berada di ibu kota maka akan ada piala datang pada setiap tahunya. Klub yg berseragam oranye ini rasanya sangat akrab dengan warga Indonesia kususnya Jakarta, tim yg selalu melahirkan bintang-bintang ( maklum saja kan tinggal di ibu kota jadi sering masuk TV , seiring perjalananya jadi cepat terkenal ).

     Kalau membicarakan PERSIJA maka tidak akan ada habisya karena saya anda dan kalian mempunyai penganlaman yg berbeda tapi ada yg menyamakan kita yaitu PERSIJA. Mungkin anda akan menganggap aneh apa hubunganya PERSIJA dengan rahim orang tua kita ?. Itulah yg saya akan coba ungkapkan dalm tulisan ini. Sebuah tulisan yang membuat saya cukup bangga kenapa saya akhirnya menetapkan hati saya pada PERSIJA JAKARTA. Tulisan yang akan mencoba membuat anda merasa berbeda telah memilih PERSIJA sebagai pelabuhan hati anda. Sadar atau tidak inilah kita dengan kejujuran yang selama ini kita tidak sadar atau tidak pernah mau menyadarinya. Inilah kita dengan kekuatan hati kita untuk tetap memilih PERSIJA sebagai klub yg kita cintai.

     Ada satu alasan kenapa gw harus mengungkapkan ini kepada khalayak ramai. Suatu hari gw pernah nonton bola bareng sama bokap gw, kebetulan cuma di televisi aja. Waktu itu yg main bukan PERSIJA dan yg main persebaya. Bokap seneng banget liat persebaya main dan dia juga liat aksi bonek yg atraktif. “ tuh liat bonek gerakannya baguskan ?”. Semangat arek-arek suroboyo tuh mesti di acungkan jempol, mereka itu yg paling berani ( dalam suku orang jawa pada waktu penjajahan, kata bokap ). Dia yg paling ngelawan penjajah dulu. “wah kenapa jadi dihubung-hubungkan ama perang jaman dulu” pikir gw.

     Tanpa harus mengomentari bokap panjang lebar akhirnya gw ganti aja chanel tv gw. Gw pikir kalo gw ladenin bokap malah tambah panjang lagian bokap orangnya keras kepala. lalu gw ganti chanel lain berharap bokap tidak melanjuti ceramahnya dia lagi. Eh gw salah ternyata masih berlanjut, yaudahlah gw jabanin aja adu argumentasinya. bonek emang suporter yg paling hebat menurut gw juga, dia rela melakukan apa aja untuk persebaya, gue juga salut dia salah satu suporter yg mampu melanglang buana tanpa harus memikirkan masalah “biaya”. kata gw ke bokap.

     Panjang mengadu argumentasi dan singkat cerita gw tetep memilih PERSIJA sebagai klub yg gw miliki. Dan bokap masih juga membagangkan klub dari surabayanya itu. Ah bwat gw sih santai aja ini toh era demokrasi jadi ngadu argumen itu wajar adanya. Mungkin sebagian cerita gw ini pernah di alami beberapa teman pecinta PERSIJA. Mesti beradu argumen untuk membela PERSIJA walau pilihan itu berbeda dengan orang sekeliling lo. Yah enak ga enak sih apa lagi ama bokap sendiri tapi bodo lah PERSIJA bwat gw ga bisa di ganggu gugat. Mereka ga pernah tau gimana nkmatnya berbaur di antara ribuan orens mereka ga pernah ngerti akan situasi yg kita alami.

     Gw bangga sebagai suporter PERSIJA. Gw ga terlahir dari rahim orang tua gw, saat orang tua gw memilih dengan suku dan ras yg sama untuk sebuah kecintaan mereka pada sebuah klub sepak bola di Indonesia gw berani untuk ambil keputusan. Inilah perbedaan kita dengan suporter lain, mungkin sebagian dari mereka menjadi suporter terlahir dari rahim orang tua mereka tapi kita tidak, kita bisa dan mau mengambil keputusan sendiri tentang cinta kita. Walau PERSIJA di suporteri dengan dominasi anak muda dan masih baru bukan berarti kita dianggap sebelah mata sudah banyak prestasi yg kita raih dan juga udah banyak juga catatn hitam kita. Semuanya akan menjadi pelajaran berharga buat kita semua.

     Kitalah suporter yg paling berbeda, bukan hanya dari orang betawi saja yg mendukung PERSIJA tapi dari berbagai macam suku, malah sekarang udah banyak suporter PERSIJA yg tidak pernah tinggal di Jakarta tapi mencintai PERSIJA. Padahal di kota mereka ada klub sepak bola juga dan klubnya juga ada di ISL. Inilah yg selalu membuat bangga banget kenapa gw jadi pecinta PERSIJA. Cinta kita murni dari hati kita sendiri buakn dari orang tua kita. Cinta kita tulus setulus kita mencari pasangan ( walau sampai saat gw menulis tulisan ini belum punya pasangan, hehehe)
Dan kita akan membawa cinta ini menuju gerbang PERSIJA dan kita akan mengakhiri semunya juga dengan PERSIJA.

     Karena KITA TIDAK TERLAHIR DARI RAHIM ORANG TUA KITA ,,


     Itulah sepenggal kata yg gw banggakan, cinta yg murni datang dari diri dan hati kita masing-masing.


Tinggalkan ras tinggalkan suku
Satu tekad dukung PERSIJA
Dibawah bendera The Jakmania
Majulah PERSIJA pantang mundur

Jangan kembali pulang
Sebelum PERSIJA menang
Walau harus mati di tengah lapang
Jakmania selalu berkorban

Pengalamanku Menonton Bola

Oleh  : Mira Febri Mellya

 
     Dalam hidupku ada beberapa hal yang ingin aku lakukan sebelum usiaku menginjak 20 tahun. Dan beberapa kesempatan untuk melakukannya sudah telanjur aku lewatkan di masa SMA. Misalnya, menjadi anggota klub pecinta alam, menjadi penabuh drum di sebuah band, dan lain-lain. Semua itu bisa saja aku kejar di masa kuliah kini, seperti yang aku lakukan kemarin, menonton bola secara langsung di stadion. Kedengarannya memang sangat sederhana, tapi tidak bagiku. Di kepalaku sudah terpola bahwa menonton bola secara langsung itu ‘menakutkan’, mengingat cerita-cerita seputar rusuhnya supporter bola, timpuk-timpukan botol yang di dalamnya diisi air seni dan segala macam tentang supporter bola yang rusuh.

     Akhirnya, beberapa hari yang lalu, tepatnya 3 Februari 2010, aku masuk ke Gelora Bung Karno Senayan untuk menonton pertandingan sepak bola antara Persija (Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta) dengan Persela (Persatuan Sepak Bola Lamongan).
 
 
Begini ceritanya…

     Berawal dari pertemuanku dengan para supporter Persija yang dikenal dengan nama The Jakmania di halte IISIP, Lenteng Agung, Jakarta. Saat itu aku sedang menunggu temanku menjemput, para The Jakmania pun sedang menunggu jemputan bis kota yang sudah dibajak dari Depok oleh teman-temannya sesama The Jak. Menurut cerita seorang temanku yang pernah ngobrol dengan supir angkutan umum, para supir itu biasanya tidak punya pilihan bila angkutannya dibajak oleh para The Jakmania, karena angkutannya bisa dirusak habis jika mereka menolak dibajak, dan bisa rusak pula jika angkutannya dipakai untuk mengangkut para supporter. Karena mereka akan memadati atap angkutan sambil bertingkah rusuh. Tapi setidaknya, kerusakan lebih bisa diminimalisir jika mereka mau mengangkut para The Jakmania, dibanding menolaknya. Iseng saja aku bertanya pada salah seorang dari mereka,

     “Mas, Persija main di mana?”Tanyaku mengawali percakapan.

     “Senayan.” Jawabnya singkat. Pemuda berparas sangar dengan kacamata berwarna merah menutupi setengah wajahnya itu lengkap memakai atribut Persija. Dari mulai syal, topi, kaos kaki, hingga kaos oranye bertuliskan nama Bambang Pamungkas, ia sukses membuatku malas meneruskan percakapan. Tapi aku tetap melanjutkannya.

     “Oo, biasanya di Lebak Bulus ya…” Ujarku sok tahu.

     “Pindah-pindah kali, Mbak,” Jawabnya, masih dengan singkat.

     “Main jam berapa Mas?”

     “Jam 3 an.”

     Percakapanku dengan dia yang aku tak tahu namanya itu, benar-benar semakin menghadirkan kesan seram dan kebencianku pada supporter bola. Selama ini aku selalu merasa mereka melakukan hal yang tidak penting karena berarak-arakan naik bis kota, membuat macet, dan polusi suara sorak sorai serta gendang mereka begitu menyakitkan telinga. Belum lagi jika Persija main di Lebak Bulus. Wah, kesempatanku untuk mendapat jatah duduk di Deborah (bis yang aku tumpangi untuk pulang-pergi kuliah) semakin berkurang. Jangankan duduk, jatah berdiriku pun tambah sempit karena disesaki para The Jak.

     Tapi entah ada angin apa akhirnya aku sampai juga di Senayan hari itu, masuk dan membeli tiket di kelas biasa seharga 20 ribu rupiah. Wah mahal juga, lebih mahal dari menonton bioskop di Hari Senin… ucapku dalam hati.

     Pekarangan luar Gelora Bung Karno terlihat tidak begitu penuh, walaupun The Jak menyebar di mana-mana. Aku sempat membeli minum di dekat loket. Tapi, membeli minum itu ternyata sebuah kesalahan besar. Karena begitu sampai di pintu masuk, 8 orang Polisi memeriksa isi tas dan kantong celana. Mereka membuka tasku dengan kasar dan terburu-buru, sehingga resletingtasku rusak dibuatnya. Air minum yang dikemas dalam botol disita oleh mereka, begitu pun korek api dan benda tajam dalam bentuk apapun.
 
     Dan inilah kesalahan besar yang aku maksud: Air minum kemasan botol yang kita bawa dipindahkan ke plastik yang telah disediakan oleh Pak Polisi. Jadilah, air mineralku yang semula di dalam botol, kini dikemas dalam plastik, seperti air minum di Warung Tegal (warteg). Tidak praktis dan menggangu penampilan. Tujuannya agar botol minum tidak digunakan untuk menimpuk, karena bisa memicu kerusuhan antar supporter. Hahaha, sungguh pengalaman yang lucu bagiku. Aku semakin tak sabar masuk ke dalam. Mungkin akan ada peristiwa yang lebih menarik lagi di sana.

     Lewat Pintu VIII aku masuk ke stadion dan duduk di Sektor 14 yang menghadap ke tengah lapangan. Gawang Persija berada di kananku dan gawang Persela di sebelah kiriku. Warna oranye menghampar hampir di seluruh bangku penonton. Para The Jakmania memadati Sektor 9 – 13 yang berada di sisi kiri  gawang Persija. Sedangkan para supporter Persela yang berkostum biru muda berjumlah sangat sedikit, hanya memadati satu sektor di sebelah kanan gawang Persela. Perbandingan supporter Persija dengan Persela adalah 10 banding 1. Wajar saja, karena Persija adalah kesebelasan tuan rumah di pertandingan ini.

     Karena korek api disita oleh Polisi, awalnya aku mengira tak ada yang boleh merokok di dalam stadion. Tapi, orang pertama yang aku lihat sedang memegang rokok justru seorang Polisi yang duduk di bangku penonton. Selanjutnya seorang pemuda, lalu bapak-bapak, dan ternyata hampir semua orang merokok. Ternyata lagi, di dalam ada penjual rokok khusus produk PT Djarum. Karena sponsor utama acara pertandingan bola tersebut adalah PT Djarum. Terang saja semua bisa mengepulkan asap dengan santainya.

     Selain penjual rokok, ada pula penjual minuman. Harga minuman lebih mahal seribu rupiah dari yang dijual di luar stadion. Ada pula penjual cangcimen (kacang, kuaci, permen), penjual roti, tahu Sumedang, dan jus buah. Para SPG (Sales Promotion Girl) juga terlihat lalu-lalang menawarkan Teh Gelas seharga seribu rupiah, yang juga merupakan sponsor pendamping pertandingan bola tersebut.

     Jujur saja, aku terlalu sibuk memperhatikan sekelilingku, sehingga aku tak menyaksikan gol yang dilancarkan oleh Aliyudin. Itu merupakan gol pertama dan satu-satunya dalam pertandingan ini. Skor kini menjadi 1-0 untuk Persija. Sayangnya, tak ada siaran ulang di stadion ini. Tidak seperti yang biasa aku saksikan di layar kaca.
 
     Saat gol tercipta, The Jakmania langsung mengibar-ngibarkan syal oranye mereka. Aku dan temanku duduk jauh dari kumpulan mereka, karena takut terjadi kerusuhan. Dari kejauhan tarian tangan mereka yang melambai-lambaikan syal begitu indah dan menarik. Aku baru sadar inilah asyiknya menonton bola. Terang saja para The Jakmania selalu beramai-ramai menonton tim kesayangannya bermain. Solidaritas dan yell-yell mereka sungguh membangkitkan semangat.

     Diantara para supporter banyak juga aku temui pasangan suami istri muda yang membawa anaknya yang masih balita. Para balita juga ikut dipakaikan kostum bola bertuliskan nama pemain jagoan bapak-ibunya, misalnya Bambang Pamungkas. Mungkin mereka berharap saat besar nanti anaknya akan sehebat Bambang Pamungkas.

     Setelah 45 menit berlalu, habislah babak pertama pertandingan sepak bola. Skor masih tetap 1-0 untuk Persija. Waktu istirahat dimeriahkan oleh penampilan Jakarta Freestyle yang menampilkan kebolehan mereka bermain-main dengan bola. Namun bagiku mereka lebih terlihat seperti semut yang membawa gula di kepalanya, karena aku melihatnya dari kejauhan.

     Setelah Jakarta Freestyle, tampil para sexy dancer. Sorak sorai penonton yang didominasi oleh kaum Adam langsung ramai terdengar. Musik yang menghentak serta liuk tubuh si penari yang seksi memang sangat memancing perhatian.

     Di babak kedua Persija lebih banyak bertahan, sedangkan Persela menyerang dengan penuh semangat. Para The Jakmania tak gentar menabuhkan gendang serta menyanyikan yell mereka. Saat menegangkan pun terjadi ketika Bambang Pamungkas, idola Indonesia, mendapat kesempatan free kick (tendangan bebas). Aku ikut berdiri dan menahan nafas saat ia akan menendang bola. Namun sayang, tendangannya mengenai tiang gawang. Gol pun gagal tercipta dan semua kembali duduk, kecuali The Jakmania yang berkumpul di sektor 9 – 13. Dari awal pertandingan hingga akhir mereka setia berdiri, menari-nari tak kenal lelah menyemangati para pemain.

     Aku mencoba menyapa seorang The Jakmania di sebelahku.

     “The Jak dari mana, Mas?” Tanyaku.

     “Gue dari Kebon Kacang. Lo dari mana?” Ia bertanya balik kepadaku.

     “Gue dari Ciputat. Cuma iseng nonton aja, baru sekali nonton bola,” jawabku jujur.

     “Pantesan nggak pakai atribut The Jak. Seru kan? Pasti ketagihan,” jawabnya yakin.

     Aku pun membalasnya dengan senyuman saja. Tapi mungkin juga aku jadi ketagihan. Karena menonton bola ternyata tak seseram yang selama ini aku bayangkan. Dan The Jakmania ternyata tidak mengganggu. Kini aku mengerti, mereka ternyata sangat penting bagi para pemain. Semangat yang mereka tunjukkan lewat yell-yell dan tabuhan gendang mereka pasti membangkitkan semangat para pemain Persija. Mungkin cocok juga pepatah lama untukku,“tak kenal maka tak sayang”. Dan kini aku punya lanjutannya, “sekali kenal hati-hati ketagihan”. Hidup Sepak Bola Indonesia…!


PS : Istilah membajak diatas mungkin kurang tepat... Lebih tepatnya di carter (sewa)... Karena para pendukung Persija mencarter angkutan tersebut...

Persija vs Persib (25-03-2010)

Oleh : Christine Elke

 

     Bagi sebagian orang tanggal ini mungkin biasa, tak ada yang istimewa namun tidak untuk saya dan teman-teman saya yang tinggal di Cilegon ini. Suatu kota kecil di ujung Indonesia, yang tak sebanding dengan Ibu Kota. Yah, Jakarta ibuKota negara saya Indonesia dengan tim kebanggaan sebagian masyarakatnya yaitu Persija Jakarta. Tim bertabur bintang yang kurang diperhatikan. Terlalu banyak masalah nonteknis di dalam kubu ini sehingga tak jarang berpengaruh pada saat tim bertanding.

     Pagi ini cuaca sedikit mendung walau pun tidak hujan. Saya bersemangat bangun pagi dan siap-siap menuju stadion kebanggaan seluruh masyaraat Indonesia yaitu Gelora Bung Karno untuk menyaksikan lanjutan pertandingan Indonesia Super League.

     Izin dari orang tua untuk menyaksikan pertandingan ini pun susah saya dapatkan, ternyata bukan hanya saya sebagian dari teman saya pun susah untuk meyakinkan kepada kedua orang tuanya bahwa pada pertandingan nanti tidak akan terjadi apa-apa.

     Cukup lama meyakinkan orang tua saya, kurang lebih 4 hari sebelum pertandingan saya "mencari muka" di depan orang tua saya agar diizinkan untuk pergi ke GBK. Alasan orang tua saya pun beragam, dari jarak yang lumayan jauh, takutnya ada bentrok antar supporter, dan alasan yang membuat saya jengkel karena saya seorang perempuan.. emmmmm… Andai orang tua saya memiliki ikatan dalam dunia bola tentu saya akan setiap pertandingan tak absen pergi mendukung Tim Persija.

     Walau saya pesimis akan diijinkan namun entah apa yang menyambar hati kedua orang tua saya, kata ‘iya’ pun terucap dari mulut mereka. Senang,..? Ya saya senang, kalo boleh jujur rasa senang itu mungkin sampai tak tergambarkan. Ini kali pertama saya menginjak GBK pada saat Persija berlaga. Saya pun tak ingin menyiya-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh kedua orang tua saya.

     Saya sangat berharap pada pertandingan ini tidak ada gesekan antar supporter sama sekali. Saya ingin membuktikan kepada kedua orang tua saya bahwa apa yang mereka bayangkan di GBK saat Persija bermain tak mengerikan seperti gambaran mereka selama ini.

     Alhasil saya pun pergi ke GBK dengan "semangat 45" mendukung tim Persija yang akan berlaga sore ini. Pada hari ini kick off dimulai jam 4.00 sore. Pertandingan nya pun sangat menarik ditonton, jual beli seragan kedua tim ini sangat asik dilihat. Walau emosi pemain di dalam lapangan sempat meledak ketika ada pelanggaran. Sedikit terlihat puing-puing botol plastik berterbangan ke pinggir lapangan. Sedikit terdengar yel rasis walau dinyayikan hanya sebentar dan oleh segerombolan saja, tapi saya salut dengan kesigapan dirijen yang langsung mengkordinir yel-yel lain agar yel rasis tersebut tak terdengar / tertutup.

     Pertandingan sore ini berakhir dengan skor 2-2… Walau Persija sempat tertinggal terlebih dahulu tapi gol Aliyudin dan Abanda merontokkan poin penuh yang didapatkan tim tamu. Jam menunjuk pukul 6.00 sore, saya pun tak dapat langsung pulang. Tertahan di parkiran kurang lebih 1 jam namun justru di sini saya mendapatkan kepuasan melihat lebih fanatiknya supporter di luar lapangan. Mereka tetap bernyanyi, bersorak, bergembira walau Persija hanya bisa mencuri 1 poin. Tak ada raut sedih, putus asa, amarah di muka mereka justru mereka mencerminkan kepuasan batin melihat Persija Jakarta bertanding pada hari ini. Mereka pun tak segan menyapa saya dan teman-teman saya walau kami tak saling kenal.

     Ini pembuktian, bahwa tak begitu menyeramkan datang langsung mendukung tim kebanggaan ke stadion. Mungkin di luar sana citra tauran dan rusuh telah tercap di nama kami sebagai supporter, namun jika Anda lihat sendiri dengan langsung tidak semua supporter brutal. Ini semua menurut saya tergantung pada diri kita sendiri sebagai supporter. Saya yakin kalau niat kita dari rumah tulus mendukung Tim Kebangga’an kita yang akan bertanding, membeli tiket tanpa menunggu jebolan, bersikap saling menghormati sama sekali tak ada kata mengerikan pada suatu pertandingan sepak bola.

     Saya pun menceritakan kepada kedua orang tua saya, bahwa GBK lumayan bersahabat dengan saya dan teman-teman. Selama saya di sana tidak ada gangguan sama sekali, saya pun sampai di rumah dengan selamat tanpa lecet atau goresan sama sekali. Saya mengatakan kepada orang tua saya bahwa sepakbola bukanlah hal mengerikan, bahkan di sebelah parkiran mobil saya terdapat sebuah mobil yang berisi sekeluarga dengan anak-anaknya lengkap dengan atribut menuju GBK. Saya harap ini pertanda kebangkitan bagi sepakbola Indonesia. Dimana sepakbola bukanlah hal yang menakutkan untuk orang tua melarang anaknya hadir di stadion tapi sepakbola adalah suatu alat komunikasi atau pendekatan anak dan orang tua.Bagi sebagian orang tanggal ini mungkin biasa, tak ada yang istimewa namun tidak untuk saya dan teman-teman saya yang tinggal di Cilegon ini. Suatu kota kecil di ujung Indonesia, yang tak sebanding dengan Ibu Kota. Yah, Jakarta ibuKota negara saya Indonesia dengan tim kebanggaan sebagian masyarakatnya yaitu Persija Jakarta. Tim bertabur bintang yang kurang diperhatikan. Terlalu banyak masalah nonteknis di dalam kubu ini sehingga tak jarang berpengaruh pada saat tim bertanding.

     Pagi ini cuaca sedikit mendung walau pun tidak hujan. Saya bersemangat bangun pagi dan siap-siap menuju stadion kebanggaan seluruh masyaraat Indonesia yaitu Gelora Bung Karno untuk menyaksikan lanjutan pertandingan Indonesia Super League.

     Izin dari orang tua untuk menyaksikan pertandingan ini pun susah saya dapatkan, ternyata bukan hanya saya sebagian dari teman saya pun susah untuk meyakinkan kepada kedua orang tuanya bahwa pada pertandingan nanti tidak akan terjadi apa-apa.

     Cukup lama meyakinkan orang tua saya, kurang lebih 4 hari sebelum pertandingan saya "mencari muka" di depan orang tua saya agar diizinkan untuk pergi ke GBK. Alasan orang tua saya pun beragam, dari jarak yang lumayan jauh, takutnya ada bentrok antar supporter, dan alasan yang membuat saya jengkel karena saya seorang perempuan.. emmmmm… Andai orang tua saya memiliki ikatan dalam dunia bola tentu saya akan setiap pertandingan tak absen pergi mendukung Tim Persija.

     Walau saya pesimis akan diijinkan namun entah apa yang menyambar hati kedua orang tua saya, kata ‘iya’ pun terucap dari mulut mereka. Senang,..? Ya saya senang, kalo boleh jujur rasa senang itu mungkin sampai tak tergambarkan. Ini kali pertama saya menginjak GBK pada saat Persija berlaga. Saya pun tak ingin menyiya-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh kedua orang tua saya.

     Saya sangat berharap pada pertandingan ini tidak ada gesekan antar supporter sama sekali. Saya ingin membuktikan kepada kedua orang tua saya bahwa apa yang mereka bayangkan di GBK saat Persija bermain tak mengerikan seperti gambaran mereka selama ini.

     Alhasil saya pun pergi ke GBK dengan "semangat 45" mendukung tim Persija yang akan berlaga sore ini. Pada hari ini kick off dimulai jam 4.00 sore. Pertandingan nya pun sangat menarik ditonton, jual beli seragan kedua tim ini sangat asik dilihat. Walau emosi pemain di dalam lapangan sempat meledak ketika ada pelanggaran. Sedikit terlihat puing-puing botol plastik berterbangan ke pinggir lapangan. Sedikit terdengar yel rasis walau dinyayikan hanya sebentar dan oleh segerombolan saja, tapi saya salut dengan kesigapan dirijen yang langsung mengkordinir yel-yel lain agar yel rasis tersebut tak terdengar / tertutup.

     Pertandingan sore ini berakhir dengan skor 2-2… Walau Persija sempat tertinggal terlebih dahulu tapi gol Aliyudin dan Abanda merontokkan poin penuh yang didapatkan tim tamu. Jam menunjuk pukul 6.00 sore, saya pun tak dapat langsung pulang. Tertahan di parkiran kurang lebih 1 jam namun justru di sini saya mendapatkan kepuasan melihat lebih fanatiknya supporter di luar lapangan. Mereka tetap bernyanyi, bersorak, bergembira walau Persija hanya bisa mencuri 1 poin. Tak ada raut sedih, putus asa, amarah di muka mereka justru mereka mencerminkan kepuasan batin melihat Persija Jakarta bertanding pada hari ini. Mereka pun tak segan menyapa saya dan teman-teman saya walau kami tak saling kenal.

     Ini pembuktian, bahwa tak begitu menyeramkan datang langsung mendukung tim kebanggaan ke stadion. Mungkin di luar sana citra tauran dan rusuh telah tercap di nama kami sebagai supporter, namun jika Anda lihat sendiri dengan langsung tidak semua supporter brutal. Ini semua menurut saya tergantung pada diri kita sendiri sebagai supporter. Saya yakin kalau niat kita dari rumah tulus mendukung Tim Kebangga’an kita yang akan bertanding, membeli tiket tanpa menunggu jebolan, bersikap saling menghormati sama sekali tak ada kata mengerikan pada suatu pertandingan sepak bola.

     Saya pun menceritakan kepada kedua orang tua saya, bahwa GBK lumayan bersahabat dengan saya dan teman-teman. Selama saya di sana tidak ada gangguan sama sekali, saya pun sampai di rumah dengan selamat tanpa lecet atau goresan sama sekali. Saya mengatakan kepada orang tua saya bahwa sepakbola bukanlah hal mengerikan, bahkan di sebelah parkiran mobil saya terdapat sebuah mobil yang berisi sekeluarga dengan anak-anaknya lengkap dengan atribut menuju GBK. Saya harap ini pertanda kebangkitan bagi sepakbola Indonesia. Dimana sepakbola bukanlah hal yang menakutkan untuk orang tua melarang anaknya hadir di stadion tapi sepakbola adalah suatu alat komunikasi atau pendekatan anak dan orang tua.*Elke

     Pagi ini cuaca sedikit mendung walau pun tidak hujan. Saya bersemangat bangun pagi dan siap-siap menuju stadion kebanggaan seluruh masyaraat Indonesia yaitu Gelora Bung Karno untuk menyaksikan lanjutan pertandingan Indonesia Super League.
Izin dari orang tua untuk menyaksikan pertandingan ini pun susah saya dapatkan, ternyata bukan hanya saya sebagian dari teman saya pun susah untuk meyakinkan kepada kedua orang tuanya bahwa pada pertandingan nanti tidak akan terjadi apa-apa.
 
     Cukup lama meyakinkan orang tua saya, kurang lebih 4 hari sebelum pertandingan saya "mencari muka" di depan orang tua saya agar diizinkan untuk pergi ke GBK. Alasan orang tua saya pun beragam, dari jarak yang lumayan jauh, takutnya ada bentrok antar supporter, dan alasan yang membuat saya jengkel karena saya seorang perempuan.. emmmmm… Andai orang tua saya memiliki ikatan dalam dunia bola tentu saya akan setiap pertandingan tak absen pergi mendukung Tim Persija.

     Walau saya pesimis akan diijinkan namun entah apa yang menyambar hati kedua orang tua saya, kata ‘iya’ pun terucap dari mulut mereka. Senang,..? Ya saya senang, kalo boleh jujur rasa senang itu mungkin sampai tak tergambarkan. Ini kali pertama saya menginjak GBK pada saat Persija berlaga. Saya pun tak ingin menyiya-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh kedua orang tua saya.

     Saya sangat berharap pada pertandingan ini tidak ada gesekan antar supporter sama sekali. Saya ingin membuktikan kepada kedua orang tua saya bahwa apa yang mereka bayangkan di GBK saat Persija bermain tak mengerikan seperti gambaran mereka selama ini.

     Alhasil saya pun pergi ke GBK dengan "semangat 45" mendukung tim Persija yang akan berlaga sore ini. Pada hari ini kick off dimulai jam 4.00 sore. Pertandingan nya pun sangat menarik ditonton, jual beli seragan kedua tim ini sangat asik dilihat. Walau emosi pemain di dalam lapangan sempat meledak ketika ada pelanggaran. Sedikit terlihat puing-puing botol plastik berterbangan ke pinggir lapangan. Sedikit terdengar yel rasis walau dinyayikan hanya sebentar dan oleh segerombolan saja, tapi saya salut dengan kesigapan dirijen yang langsung mengkordinir yel-yel lain agar yel rasis tersebut tak terdengar / tertutup.

     Pertandingan sore ini berakhir dengan skor 2-2… Walau Persija sempat tertinggal terlebih dahulu tapi gol Aliyudin dan Abanda merontokkan poin penuh yang didapatkan tim tamu. Jam menunjuk pukul 6.00 sore, saya pun tak dapat langsung pulang. Tertahan di parkiran kurang lebih 1 jam namun justru di sini saya mendapatkan kepuasan melihat lebih fanatiknya supporter di luar lapangan. Mereka tetap bernyanyi, bersorak, bergembira walau Persija hanya bisa mencuri 1 poin. Tak ada raut sedih, putus asa, amarah di muka mereka justru mereka mencerminkan kepuasan batin melihat Persija Jakarta bertanding pada hari ini. Mereka pun tak segan menyapa saya dan teman-teman saya walau kami tak saling kenal.

     Ini pembuktian, bahwa tak begitu menyeramkan datang langsung mendukung tim kebanggaan ke stadion. Mungkin di luar sana citra tauran dan rusuh telah tercap di nama kami sebagai supporter, namun jika Anda lihat sendiri dengan langsung tidak semua supporter brutal. Ini semua menurut saya tergantung pada diri kita sendiri sebagai supporter. Saya yakin kalau niat kita dari rumah tulus mendukung Tim Kebangga’an kita yang akan bertanding, membeli tiket tanpa menunggu jebolan, bersikap saling menghormati sama sekali tak ada kata mengerikan pada suatu pertandingan sepak bola.

     Saya pun menceritakan kepada kedua orang tua saya, bahwa GBK lumayan bersahabat dengan saya dan teman-teman. Selama saya di sana tidak ada gangguan sama sekali, saya pun sampai di rumah dengan selamat tanpa lecet atau goresan sama sekali. Saya mengatakan kepada orang tua saya bahwa sepakbola bukanlah hal mengerikan, bahkan di sebelah parkiran mobil saya terdapat sebuah mobil yang berisi sekeluarga dengan anak-anaknya lengkap dengan atribut menuju GBK. Saya harap ini pertanda kebangkitan bagi sepakbola Indonesia. Dimana sepakbola bukanlah hal yang menakutkan untuk orang tua melarang anaknya hadir di stadion tapi sepakbola adalah suatu alat komunikasi atau pendekatan anak dan orang tua.