Generasi Emas Ibukota

Oleh : Edo Ebot Iskandar

Referensi : Berbagai Sumber

    Patah tumbuh hilang berganti. Di awal tahun 1970'an, setelah era Sinyo Aliandoe dan Sucipto "gareng" Soentoro berakhir, persija segera menemukan bintang2 baru. Iswadi Idris, Risdianto, Junaidi Abdilah mulai mekar di awal periode 70'an. Kuncinya, kontinuitas Persija menyelenggarakan kompetisi amatir. mulai dari kompetisi seniornya, remaja taruna hingga gawang. tak heran pemain berbakat pun terus bermunculan.

    Dari sekian generasi di Persija, periode 70'an bisa gue bilang sebagai generasi emas Macan Kemayoran, juara 3 kali berturut-turut Liga Indonesia dari tahun 1972, 1975 hingga 1977, Persija tak tertahan tim-tim lain pada masa itu.


  "Persija nyumbang 15 pemain buat timnas", kenang alm. Ronny Patinasarani salah satu legenda Persija dan TimNas Indonesia periode 70'an. PSSI pun pernah mempercayakan Persija menggantikan TimNas di piala Quoch Khan di Vietnam Selatan tahun 1973 dgn hasil juara.


BERSAING KETAT

    Gaji pemain pada periode itu tak melimpah."tak seperti sekarang, gajinya besar sekali" aku Sofyan Hadi gelandang Persija dan TimNas periode 70'an yg juga pelatih Persija saat jadi juara di tahun 2001. Kala itu para pemain berkompetisi dengan dirinya sendiri agar dilirik masuk TimNas.

   Persaingan inilah yang menciptakan persaingan terbuka jika Persija ketemu dengan lawan-lawan besarnya seperti Persib Bandung, PSMS Medan, Persebaya Surabaya ataupun PSM Makassar. Ke 5 tim ini selalu di sebut-sebut sebagai tim-tim legendaris Indonesia. Tidak heran tensi tinggi setiap tim-tim ini bertemu hingga sekarang, yang lebih sering di sebut sebagai partai2 klasik indonesia.


   "Meski gaji pas2n, namun bermain di Persija tetap menjadi impian setiap pemain di Indonesia" kenang Risdianto bomber Persija dan TimNas periode 70'an. "Sampai sekarang pun Persija tetap menjadi tim idola para pemain" tambah Andi Lala pemain sayap Persija dan TimNas 70'an. "Kita dulu latihan dua jam, setelah itu nambah latihan sendiri-sendiri selama setengah jam, kami mampu bermain lebih dari 120 menit di dalam satu pertandingan" ujar Sofyan Hadi.

    Tak heran saat Iswadi Idris Cs berjaya, Hadi Sumanto dan Dede Sulaiman hanya duduk di bangku cadangan, kala itu mereka masih junior dan baru mekar di periode 80'an di Persija dan TimNas.

    "Saya termasuk pelatih yg beruntung, saya punya tim yg komplit", ujar Sinyo Aliandoe pelatih macan kemayoran periode 70'an yang melatih Persija pada usia 31 tahun. Sinyo pantas bangga di bawah arahannya Persija hampir meraup seluruh gelar, mulai juara Liga, piala Suratin, hingga PON 1972 dan 1977, cuma piala presiden Soeharto yang lepas, pada final 1972 mereka kalah 1-2 dari PSMS medan.
 
    Memang Persija selalu kesulitan pada perode itu setiap ketemu PSMS medan, Persija yang mengandalkan skill suka kesulitan menghadapi gaya main keras PSMS medan yg terkenal dengan rap rap nya itu. agaknya piala presiden Soeharto bukan keberuntungan Persija, pasalnya pada tahun 1974 dan 1976 Persija juga gagal di final.
 
 
SKILL MENONJOL

    Pada generasi itu tiap pemain punya kelebihan individu, Sucipto Soentoro punya tendangan yang keras, saking kerasnya kiper muda Sudarno jeri untuk menahannya. Striker Waskito terkenal dengan sprint, Risdianto terkenal dengan kecerdikannya di lini depan. Ia mampu mencetak gol dalam posisi-posisi sulit. Oyong Liza dan Suaeb Rizal di kenal sebagai tembok kokoh Persija dan TimNas yang sulit di tembus, sementara Junaidi Abdilah di kenal sebagai otak serangan Persija dan TimNas dengan skill olah bolanya yang mumpuni.
 
    Roni Patinasarany dianggap pemain yang komplet yang pernah di miliki Persija dan TimNas. Puncak ketenaran Persija terjadi ketika Alm. Iswadi Idris yang kala itu kapten Persija dan TimNas di kontrak salah satu klub profesional di liga Australia asal Sydney yaitu Western Suburb, klub liga australia ini tertarik pada iswadi saat ia tampil mengesankan pd pra piala dunia 1974, yang kala itu kita hampir saja lolos ke Piala Dunia kalau saja kita tidak kalah adu pinalti dari Korea Selatan. Yang lebih membanggakan lagi semua pemain yang bermain di TimNas kala itu berasal dari Persija, sampai-sampai cadangannya Persija di panggil ke TimNas kala itu.
 
   "Meski saya bermain di luar tapi untuk TmNas Saya pasti datang"  ujar kapten Persija dan TimNas yang terkenal tempramental ini. Yang juga di kenang dari alm. bang Iswadi Idris itu kala di final liga Indonesia ketika Persija ketemu PSMS Medan, bang Is memukul Nobon kapten PSMS hingga Nobon terjatuh dan berdarah, bang Is kesal karena Nobon yang juga rekannya di TimNas mengasarinya sepanjang pertandingan.

    Ada juga kejadian yang di kenang dari pemain berdarah Betawi dan Aceh ini, anak Betawi Manggarai ini pernah melorotkan celananya ke arah penonton ketika Persija melawan Persib di Bandung, Ia kesal karena selama pertandingan Persija dapat cemooh dan timpukan di Bandung. Ya, dari dulu rivalitas Persija dengan Persib memang sudah panas.

    Pada periode 70'an pemain-pemain Persija juga sangat di kenal oleh masyarakat Jakarta, terlebih pemain-pemain Persija cukup modis, dandanan rambut panjang kribo yang lagi ngetren di dekade 70'an menjadi model. Restoran Hotel Indonesia yang megah pada masa itu jadi tempat ngumpul-ngumpul pemain Persija pada masa itu.

   Persija selalu menjadi tim besar dan akan selalu menjadi tim besar dan kami bangga menjadi suporter Persija Jakarta.

Stadion Ikada

Dokumentasi : Gerry Anugerah Putera

Sumber : REPUBLIKA – Sabtu, 22 April 2006

    Jauh sebelum ada Senayan, Lapangan Ikada yang juga disebut Lapangan Gambir merupakan pusat kegiatan olah raga. Nama lapangan Ikada sendiri baru dikenal pada masa pendudukan Jepang, ketika negara itu menduduki Jakarta pada 1942, dan kemudian mengganti sejumlah nama tempat, lapangan dan jalan-jalan.

    Dinamai Ikada, karena di lapangan ini para atlet Ibu Kota setiap hari mengadakan latihan-latihan. Tapi yang memanfaatkan lapangan itu sebenarnya bukan hanya para atlet saja. Karena di sekitar lapangan yang luas itu terdapat pula belasan lapangan sepakbola, termasuk lapangan hockey. Di lapangan ini terdapat pula tempat pacu kuda. Termasuk lapangan pacu kuda untuk satuan militer dari kavaleri. Di lapangan inilah sejumlah klub sepakbola pada tahun 1940-an dan 50-an memiliki lapangan sendiri. Seperti lapangan Hercules, VIOS dan BVC, yang merupakan kesebelasan papan atas pada kompetisi BVO (Batavia Vootball Organization) dan setelah kemerdekaan digantikan oleh Persija.

    Sebelum adanya Senayan (1962), Ikada digunakan sebagai tempat latihan dan pertandingan PSSI. Di tempat inilah sebelum lapangan itu dibongkar diselenggarakan pertandingan-pertandingan sepak bola bergengsi. Termasuk mendatangkan berbagai kesebelasan luar negeri. Nama-nama pemain sepakbola seperti Ramang, Djamiat Dalhar, Tanoto (Tan Liong Houw), Kiat Sek, Van der Vin, bahkan kemudian generasi almarhum Sutjipto Suntoro dan masih puluhan nama lagi selalu bermain di sini. Iswadi Idris dan Bop Hippy yang kemudian menjadi pemain nasional dibentuk dari tempat ini melalui kompetisi-kompetisi gawang (di bawah 14 tahun).

   Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-II tahun 1952 di sebelah selatan lapangan ini dibangun sebuah stadion, yang juga diberi nama Stadion Ikada. Proses pembangunan itu singkat, hanya 93 hari. Namun nama itu cukup membekas sehingga nama Stadion Ikada makin dikenal.

   Di lapangan inilah pada 13 September 1945 di bawah ancaman moncong meriam dan bayonet Jepang, rakyat Ibu Kota dan sekitarnya mengadakan rapat raksasa untuk lebih mempersatukan rakyat dalam membela kemerdekaan. Tapi karena menghadapi ancaman Jepang dan mencegah rakyat menjadi korban, Bung Karno hanya berpidato sangat pendek. Takut akan terjadi ‘banjir darah’, Presiden Soekarno menganjurkan agar massa rakyat segera bubar dan pulang ke tempat kediamannya masing-masing.

   Almarhum Adam Malik yang hadir dalam rapat raksasa itu dalam bukunya Riwayat Proklamasi Kemerdekaan 1945 menyebutkan bahwa rapat raksasa yang diselenggarakan kelompok Menteng 31 itu tanpa persiapan sama sekali. Menurut mantan Wapres, keadaan itu berbeda ketika Jepang mempergunakan Lapangan Ikada untuk menggembleng semangat ala tiga A (Aku Anti Amerika) yang persiapannya dilakukan selama berhari-hari.

   Tentu saja generasi sekarang tidak lagi mengenal lapangan Ikada. Karena tiap orang menyebutnya Lapangan Monas. Lapangan terluas di dunia ini dibangun oleh gubernur jenderal Herman William Daendels (1818). Mula-mula namanya Champ de Mars karena berbarengan dengan kekuasaan Napoleon Bonaparte yang menaklukkan Belanda. Tapi ketika Belanda berhasil merebut kembali negerinya dari Prancis, namanya jadi Koningsplein (Lapangan Raja). Sementara rakyat lebih senang menyebut Lapangan Gambir, yang namanya kini diabadikan untuk nama stasion kereta api.

Dan, Batavia Pun Berpesta di Tahun 1938

Oleh : Gerry Anugerah Putera

Referensi : Koran Sin Po 10 Juni 1938

      Saya akhirnya menemukan fakta menarik, dimana dalam beberapa sumber menyebutkan kompetisi PSSI pada tahun 1938 jatuh ke tangan Solo (Persis) tetapi dalam susunan Wikipedia juara ada tahun itu direbut oleh VIJ (Persija). Jelas kesimpangsiuran ini menimbulkan kebingungan, dan saya sedikit bertanya-tanya ada apa ditahun 1938.

      Fakta menarik tersebut saya dapatkan dari koran yang bisa dibilang sudah sangat tua dan rapuh, sehingga untuk membalikan halamannya saja agak sedikit hati-hati kalo tidak mau robek secara ber-class, ya Koran itu bernama Sin Po, Koran tua dengan pasar pembaca tionghoa termasuk Koran yang sangat berpengaruh di Ibukota dan Surabaya (di Surabaya hadir dengan nama Sin Tit Po). Awalnya saya mengira Koran ini pro terhadap Belanda, terbukti dengan berita yang selalu berat ke VBO (Voetballbond Batvia Omstraken). Dimana kompetisi VBO selalu menjadi berita di rubrik sport, tetapi diam-diam saya menemukan berita tentang VIJ, yah walaupun kecil , itu sudah membuat saya senang.

     Selain VIJ, adapula berita tentang timnas kita yang menjadi Negara asia pertama yang berlagai di Piala Dunia 1938 lengkap beserta foto. Hindia Belanda saat itu diwakili oleh orang-orang yang bernaung di bawah bendera NIVU. Ini yang membuat PSSI semakin membenci NIVU lantaran NIVU menipu PSSI. Ya tentang pengiriman tim ke piala dunia memang seharusnya ditentukan dengan pertandingan antara PSSI melawan NIVU yang pemenangnya berhak mewakili Hindia Belanda ke Piala Dunia, NIVU nampkanya mencium gelagat pembangkangan dari PSSI, takutnya di Piala Dunia nanti, PSSI mengibarkan panji semangat nasionalisme dalam diri Indonesia bukan Hindia Belanda yang menjadi Negara satelit dan jajahan kerajaan Belanda.

    Oke balik lagi yuk ke VIJ sebagai cikal bakal Persija nantinya. Yap, sumber yang saya temukan sangat fix, bila dulu saya mendapat sumber dari tangan kedua, maka hari ini saya mendapatkan sumber dengan mata kepala saya sendiri. Awalnya saya hampir menduga bahwa memang benar bukan VIJ juaranya, dimana semifinal VIJ sudah bertemu Surabaya (Persibaja) terlebih dahulu. Ini sangat tidak sesuai dengan sumber yang banyak menyebutkan VIJ juara setelah mengalahkan SIVB dengaan skor 3-1 di final, nah itu memang terjadi tetapi bukan di kompetisi PSSI tahun 1938, itu terjadi di kompetisi NIVU, VBO berhasil mengalahkan SIVB dengan skor 3-1. Dari situ saya mencoba terus mencari artikel di Koran itu tentang final Kampeonturnoi PSSI dan hasilnya..eng..ing..eng.. yaaa VIJ berhasil mengalahkan Solo (Persis) dengan skor 3-1.

     Artikel yang saya liat sendiri adalah fix dan berhasil mematahkan kegalauan saya tentang kompetisi tahun 1938 ini, bila kemarin-kemarin saya sempat berfikir Persija hanya juara 8 kali kompetisi PSSI maka sekarang saya sudah nyaman dengan 9 kali juara kompetisi tertinggi di Indonesia ini, plus satu kali juara Liga Indonesia tentunya, He..he..

     Itu memang masa lalu, masa lalu yang membuat saya tertarik. Faktor Persija yang membuat saya ingin mengenal tim ini secara lebih dekat. Bila para hooligan, ultras bahkan para fans biasa saja bisa mengenal sejarah klub mereka, saya juga ingin mengenal sejarah panjang sebuah perkumpulan yang bahkan lebih besar dari sekedar klub, Tim Persija.

    Besar karena Persija mengayomi beberapa klub yang ada di Jakarta, besar pula karena banyak pemain hebat dan gelar-gelar fantastis yang lahir dari tim ini. Apakah kita mengenal semua-semua dari mereka? I don’t think so..

     Bila banyak dari orang lain yang memandang sinis dengan sejarah ataupun masa lalu, wajar saja. Karena kelemahan bangsa ini adalah penghilangan sejarah untuk membuat sejarah baru yang mungkin beberapa tahun kedepan akan hilang dan digantikan sejarah baru. 1938 adalah bukti, hilangnya sejarah atau kesimpangsiuran sejarah membuat saya sebagai pecinta Persija merasakan kegalauan yang luar biasa. Beruntung masih ada arsip tersimpan rapi di lantai 7 di gedung perpustakaan yang sangat sepi pengunjung, dari lantai ini saya merasa kembali terbang ke tahun-tahun itu, ikut merasakan sukses VIJ (Persija) yang mungkin orang-orang pada tahun itu tidak memikirkan begitu susahnya menemukan kembai arsip, dokumantasi dan data jerih payah mereka dalam menghadirkan gelar ke tanah Ibukota.

V.I.J (PERSIJA) 3-1 Solo (Persis), di Sriwedari Solo

Gol VIJ : Soetjipto, Iskandar, Soetarno
 
Susunan Pemain V.I.J tahun 1938 :
Roeljaman; Moh. Saridi, A. Gani; Djaimin, Moestari, Soemarno; Soetarno, Soetjipto, Soetedjo; Iskandar, Oentoeng.